Museum Negeri Banda Aceh
Selasa, 31/10/2006 - 04:05 WIBRoni Muchtar - Budaya
Kota Banda Aceh memiliki sebuah Museum Negeri yang terletak dalam sebuah Kompleks.
Bangunan induk Museum berupa sebuah rumah tradisional Aceh, dibuat pada tahun 1914 untuk Gelanggang Pameran di Semarang, yang kemudian dibawa pulang ke Banda Aceh tahun 1915 oleh Gubernur Van Swart (Belanda) yang kemudian dijadikan Museum.
Sekarang ini lingkungan Museum ini telah bertambah dengan bangunan baru yang mengambil motif-motif bangunan Aceh seperti halnya bangunan Balai Pertemuan yang berbentuk kerucut yang bentuknya diambil dari cara orang Aceh membungkus nasi dengan daun pisang yang dinamakan “Bukulah”. Bukulah ini antara lain dihidangkan pada kenduri-kenduri tertentu seperti Kenduri Blang, Kenduri Maulid Nabi Besar Muhammad Saw dan lain sebagainya.
Ruang pamer Museum yang baru, memiliki bangunan 3 lantai, dipenuhi oleh berbagai koleksi barang-barang purbakala yang ditata dengan baik. Salah satu koleksi Museum ini adalah Lonceng Besar yang diberi nama “CakraDonya”. Lonceng ini merupakan hadiah dari Kerajaan Cina tempo dulu yang dibawa oleh Laksamana Ceng Ho pada tahun 1414. Beranda depan Museum memiliki bentuk khas yang juga memperlihatkan ukiran-ukiran kayu dengan motif Aceh.
Dikompleks ini sekaligus dijumpai makam sultan-sultan Aceh dimasa lalu. Makam para Sultan pada umumnya dinuat dari Batu Gunung dan dihiasi dengan Kaligraphi Arab yang indah mempesona, salah satunya adalah Makam Sultan Iskandar Muda.
Berita Lainnya :
- BRR : Sayembara Disain Pra Rencana Museum
- Night at Museum
- Tinggal Kenangan
- Renovasi
- Nazar kesalkan kualitas Rumah Bantuan BRR di Simeulue
Comments
Comment from suprayitno
Time: Agustus 31, 2007 - 2: 57 pm, 2:57 pm
Baik, tetapi bagaimana kondisi bangunan musium setelah bencana tsunami. Apakah kondisi makam-makam raja-raja eceh dahulu ikut hancur? Dan apakah dalam komplek makam raja-raja ada semua makam raja aceh?
Semoga sukses dan gembira kalau pertanyaan saya ada jawabannya. Kerana saya mau berkunjung ke Aceh bulan september untuk mencari makam raja-raja aceh untuk keperluan riset.
Comment from Pedro
Time: Januari 11, 2008 - 10: 11 pm, 10:11 pm
Arsitektur bertingkat pada rumah tradisional aceh pasti memiliki filosofi tersendiri. Sangat erat dengan budaya aceh, yang dulunya familiar dengan aristokrasi, dimana kaum bangsawan dan uleebalang (tingkat tertinggi pada stratifikasi sosial aceh) memiliki peranan penting dalam menciptakan budaya lokal yang akhirnya jadi beragam.
Aku pernah dideskripsikan perpilah bangunan rumah aceh tersebut (lupa lagi sih,hehe), tapi belom mendapatkan yang lebih conprehensive.
kalau bisa di update lagi contentnya dengan membubuhi filosofi dari rumah tersebut (ga perlu detail, cukup singkat dan padat aja). salam.














Write a comment