Tangki Air Baru Di Desa Bitai Dan Emperom
Thursday, 04/01/2007 - 10:06 WIBRoni Muchtar - Aceh Hari Ini
Masyarakat Desa Bitai Kotamadya Banda Aceh sebentar lagi tidak akan mengalami kesuiitan air minum lagi. Mercy Corp sebuah NGO dari Amerika Serikat akan segera melakukan instalasi pipa dengan tangki air yang sudah mereka bangun disekitar Desa Bitai dan Desa Emperom. Masyarakat Desa Bitai yang sebelumnya hanya dapat suplai air minum dari PDAM kini bernafas lega dengan segera dirampungkannya tangki air ini. Hal ini dikarenakan karena pasokan air minum dari PDAM kadang-kadang tidak begitu lancar. Sehingga masyarakat harus selalu mengantri untuk bisa mendapatkan air dari beberapa mobil tangki dari beberapa NGO yang sering mensuplai air minum ke desa mereka.
Mercy Corp sendiri telah menyatakan segera melakukan penyambungan pipa yang sebelumnya telah dikerjakan oleh JICS (Japan International Coorperation System) dan juga koordinasi dengan pihak Bulan Sabit Merah Turki selaku donor pembangunan 350 unit rumah di Desa Bitai.
Pihak Mercy Corp sendiri yakin, dengan adanya tangki air ini masyarakat tak perlu lagi harus takut akan kekurangan air. Jika suplai air dari PDAM macet, masyarakat bisa langsung menuju ke Mesjid di Perbatasan antara Desa Bitai an Desa Emperom untuk mengambil air sehingga bisa memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Galian yang Asal-asalanĂ‚Â
Sementara itu beberapa penggalian untuk pemasangan pipa air dibeberapa titik di kota Banda Aceh seperti sangat menggangu pengguna lalu lintas. Ini dapat dilihat pada jalan Pocut Baren Peunayong. Pihak yang melakukan penggalian tidak meratakan tanah galian seperti semula, sehingga membuat sisi jalan menjadi sempit. Hal ini menimbulkan kemacetan serta membuat jalan menjadi berdebu. Sepertinya pemerintah kota harus bertindak cepat dengan hal ini. Perencaan penggalian yang selalu saja mendahului pembuatan jalan. Ini terlihat pada jalan-jalan yang baru diaspal kemudian dilakukan penggalian sehingga jalan yang sudah diperbaiki kembali rusak dan bisa menimbulkan lubang ketika hujan. Ini sepertinya sudah menjadi tradisi yang terus menerus terjadi. Seperti masyarakat di Desa Lampineung hanya bisa pasrah dengan penggalian yang membuat jalan yang baru diaspal menjadi berlumpur ketika hujan dan berdebu ketika panas.













Write a comment