FFI 2006 “Anti klimaks sebuah kompetisi”
Kamis, 11/01/2007 - 17:07 WIBgojan36 - Musik & Film
Pada tanggal 21 Desember 2006, Festifal Film Indonesia menetapkan Film Ekskul garapan Nayato Fio Nuala sebagai film terbaik dan sutradara terbaik. Hal ini mengundang protes dari masyarakat Film Indonesia. Dikomandoi Rudy Soedjarwo, Mira Lesmana,Riri Reza dll menuntut dewan juri agar menghapus Ekskul dalam sejarah FFI, aksipun berlanjut dengan pengembalian 22 Piala Citra yang pernah mereka terima kepada panitia.Menurut Rudy Soedjarwo proses kreatif film Ekskul terutama pada tata musik menjiplak film-film Gladiator, Black Hawk Down dan lainnya. Pendapat ini bukanlah karena Mendadak Dangdutnya tidak menang. Lebih lanjut lagi Rudi dan senias muda Indonesia juga menuntut FFI, Lembaga Sensor Film serta Dewan Pertimbangan Perfilm Nasional dibubarkan.
Remi Sylado senias senior Indonesia selaku salah satu juri di Festifal Film Indonesia berpendapat score musik di film Ekskul bukanlah Plagiat. Ini dibuktikan dengan tidak adanya 8 bar yang sama pada lagu yang dituduhkan tersebut.
Dewan juri memenangkan Film Ekskul arahan Sutradara kelahiran Aceh 20 Februari 1968 yang juga menggarap Film Hantu Jeruk Perut ini karena tema yang diusung Film Ekskul mengenai kekerasan yang terjadi di sekolah dan rumah tangga.
Kekerasan yang marak terjadi di Indonesia dianggap lebih Realistis dibanding Denias, Senandung di Atas Awan karya John De Rantau yang mengusung tema pendidikan anak di Papua.
Seharusnya penjurian haruslah menilai keseluruhan aspek suatu Film mulai dari tehnik penyutradaraan, skenario, editing, sinematografi, pemeran, artistik, tata cahaya, tata suara, tata musik, sampai pada kostumnya.
Ekskul sendiri masih sangat jauh dari kata “Terbaikâ€. Coba bandingkan dengan Berbagi Suami-nya Nia Dinata yang ironisnya tidak masuk nominasi dalam katagori Film Terbaik. Padahal film tersebut mewakili Indonesia pada Academy Awards katagori Best Foreign Film.
Nayato membuat kesalahan mendasar di Ekskul. Pistol satu peluru Joshua, tokoh utama dalam Film tersebut meletus dua kali. Permainan cahaya terlalu mengeksplor sisi gelap saja..
Festival Film yang seharusnya jadi ajang pesta tertinggi para insannya berubah jadi titik balik moral pelakunya baik juri maupun pesertanya, tindakan arogansi sineas muda yang tidak menghormati keputusan juri adalah tindakan yang sangat tidak berbudaya.
Dalam segala bentuk kompetisi selalu ada kalah dan menang, pemenang sejati selalu bisa menyikapi kekalahannya dengan bijaksana dan merubahnya menjadi karya yang luar biasa. Maju terus Film Indonesia!














Write a comment