Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Dijunjung
Saturday, 20/01/2007 - 12:55 WIBRoni Muchtar - Umum
Pemimpin umat Islam (Mufti) untuk Negara Commonwealth Australia, Seikh Taj Al Din El Hilaly, mendapat kesulitan untuk kembali ke Australia, setelah beberapa ungkapan kontroversialnya tentang penduduk negeri kangguru tersebut. Saat ini Seikh Hilaly (begitu Ia biasa disapa) sedang berada di negeri asalnya Mesir, dan seluruh anggota parlemen Australia menyatakan bahwa Ia boleh “tidak usah kembali ke Australia, bilamana secara terus menerus selalu mengeluarkan pendapat negative tentang rakyat Australiaâ€.
Begitu juga pendapat Menteri Imigrasi Australia, Amanda Vanstone, ”…I remind Sheik al-Hilali that if he doesn’t like Australia, our heritage or our way of life, he doesn’t have to come back.”
Pendapat pendapat Seikh Al Hilaly memang dapat digolongkan kontroversial, baik mengenai Jilbab (Rakyat muslim Australia menyebutnya dengan sebutan Hijab), begitu pula dengan masalah masalah politik yang menyangkut tragedi World Trade Centre, Abu Zarkawi, Hezbollah dan lain sebagainya.
Mufti pernah mengatakan dalam sebuah wawancara di televisi, bahwa “wanita yang tidak memakai jilbab hampir sama dengan sebuah daging mentah yang tidak dibungkus (woman without hijab is just like uncovered meat)â€. Dan ungkapan tersebut yang menjadikannya boomerang, hingga menghilangkan simpati rakyat Australia terhadap dirinya, baik rakyat Australia non-Muslim dan juga Australia Muslim.
Beberapa golongan umat Islam di Australia pun mulai “malu†dan akhirnya melanjutkan protes kepada Seikh, bahwa Ia semestinya menghormati situasi politik yang sedang menghangat dan berharap agar beliau mengingat kembali dimana beliau tinggal, mungkin hampir sama dengan teguran melayu “Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjungâ€.
(Sumber: The Age News Paper, Australia)













Write a comment