Internasional
Desa Kami, Desa Lampageu, Ujung Pancu
Friday, 09/03/2007 - 04:31 WIB - Oleh: Roni Muchtar
Desa Lampageu akrab disebut desa Ujung Panco, terletak di wilayah Kecamatan Peukan Bada. Lokasinya jauh dari pusat kota. Untuk mencapai desa ini membutuhkan satu jam berkendaraan, melewati pemandangan alam yang indah dan garis pantai yang menawan, meski dengan kondisi jalan yang masih rusak. Perjalanan kami, tim CAU, di akhir bulan Januari lalu untuk melakukan pendampingan terhadap pengaduan yang kami terima. Sebelum tsunami desa ini cukup terisolasi akibat konflik. Infrastruktur pendidikan tak memadai, tidak juga kesehatan.
Tidak ada sekolah baik SD, SMP dan SMU, atau puskesmas. Banyak keluarga yang mengungsi ke kota supaya anaknya dapat bersekolah. Di desa ini sempat ada perkebunan cabai, sayang potensi ini tidak dikembangkan. Selain itu, sempat ada pelabuhan nelayan dan wilayah pertambakan udang. Potensi ini juga tak berkembang baik.
Para nelayan dari desa ini harus turun ke kota agar bisa menjual hasil tangkapannya. Itupun dengan batas jam malam. Sedikit dari mereka yang tetap bertahan. Keadaan yang tak aman banyak membuat warganya memilih pergi ke kota. Ketika terjadi tsunami, air menyurut, sebagian warga yang telah lari ke gunung melihat air laut mulai naik, “Mereka berteriak, air laut naik, air laut naik,†ujar Jamal, penduduk desa Lampageu. Warga desa lainnya cepat-cepat melarikan diri ke atas gunung. Tsunami menelan satu korban meninggal dari desa ini. Hampir tak ada bangunan yang tertinggal, kecuali tujuh rumah yang berada di atas perbukitan selamat dari terjangan tsunami. Setelah dua tahun tsunami, Lampageu telah banyak pula berubah. Organisasi Uplink masuk ke wilayah sejak 2005 telah membangun kurang lebih 90 rumah di sepanjang pinggiran pantai dan di tepi bukit. Jamal dan keluarganya, salah satu warga dari 90 kepala keluarga yang telah kembali ke desa dan menempati rumah tersebut.
Pelan-pelan warga kembali ke kehidupan mereka. Pelaut kembali melaut, pedagang kembali berdagang, ibu-ibu mulai berkebun. Dengan dana swadaya, warga juga mulai memperbaiki pertambakan dan pembibitan udang. BRR membangun tempat pelelangan ikan. Sayang, tempat ini belum bisa digunakan, “ tempat pelelangan ikan ini belum bisa difungsikan karena tidak sesuai dengan permintaan warga dan berlawanan dengan kondisi angin dan geografis wilayah ini,†ujar Jamal. Kembali secara swadaya, warga membangun pelabuhan laut, sementara BRR membangun tanggul sehingga air laut tidak mengikis tanah desa serta memberikan rasa aman ketika air laut pasang. Sampai saat ini, Desa Lampageu hanya diterangi lampu minyak dari rumah warga di waktu malam. Keuchik dan warga setempat sudah tiga kali mengajukan usulan pemasangan listrik ke PLN. Hingga kini belum ada tanggapan. “Ini membuat susah anak-anak sekolah. Mereka jadi tak bisa belajar dengan nyaman,†kata Kasim Abdullah, warga desa ini. Kebutuhan dasar lain yang masih perlu dibangun yakni sistem perairan. Untung desa ini juga dibalik bukit, sehingga IRC (International Rescue Committee) berencana membangun tanggul air dari mata air di penggunungan.
Menariknya, kesadaran warga desa tentang kelestarian hutan cukup baik. Warga tidak menebang pohon-pohon di gunung karena mereka sadar rumah mereka di kaki bukit sehingga jika ada penebangan hutan secara berlebihan akan terjadi longsor. Harapan lain Jamal dan warga lainnya agar dibangun puskesmas, “supaya jika ada yang sakit tidak harus ke kota untuk berobat. Letaknya cukup jauh dari desa,†ujarnya. Begitu pula halnya dengan transportasi umum yang bisa mengjangkau desa mereka dan membantu laju perekonomian dan pembangunan.
(Writen by Yashinta)







