Barak Cot Gu
Wednesday, 18/04/2007 - 03:52 WIBRoni Muchtar - Umum
Mobil melaju selama 30 menit membawa tim CAU menuju Barak Putih. Letaknya di lembah Cot Gu, Lampeunerut, Aceh Besar. Penghuni barak Putih kebanyakan mantan penyewa korban tsunami antara lain dari Peukan Bada, Manjame, dan Kampung Jawa. Perjalanan ini merupakan pendampingan terhadap pengaduan yang diterima dari kotak pengaduan Palang Merah Irlandia dan kemudian kami lakukan pendampingan terhadap kebutuhan mereka. Barak putih dibangun dengan model rumah panggung, sejak April 2005, dengan model rumah yang jadi ciri khas rumah Aceh. Ada 62 keluarga masih menghuni barak. BRR memperpanjang masa sewa selama enam bulan sejak Januari 2007. Kondisi barak bahkan sudah tak elok dipandang. Mulai dari cat dinding barak yang telah pudar, tangga barak yang hampir rubuh, lantai barak yang sudah berlubang, dinding barak yang tampak koyak, atap barak yang bocor, sampai bau pesing dari sana sini.
Tampak jelas barak ini sudah tak layak huni, tapi hendak ke mana pengungsi akan tinggal. Apa boleh buat, mereka pun bertahan tinggal di barak. “Kami terima saja kondisi ini. Kami sudah berusaha ke BRR untuk mendapatkan rumah bantuan bagi para penyewa, semua prosedur sudah kami lengkapi. Sampai sekarang belum ada tindak lanjut dari BRR,†ujar Haris, koordinator Barak Putih.
Tak ada masalah dengan sambungan listrik bagi penghuni barak dengan adanya bantuan listrik gratis dari PLN.Sanitasi menjadi salah satu permasalahan yang ada, meski warga bisa mengakses air bersih yang didukung oleh Unicef. Kondisi lingkungan barak terlihat jelas ada genangan air kotor. Belum lagi kebiasaan membuang sampah di bawah kolong barak, yang juga menjadi tempat bermain anak-anak. Penguni barak Cot Gu rentan terhadap penyakit seperti penyakit kulit, saluran pernapasan, dan saluran pencernaan, walaupun mereka rutin mendapat bantuan pelayanan kesehatan ke barak, “Saya berterima kasih karena masih ada puskesmas keliling dari kecamatan yang rutin melakukan pelayanan ke barak, walupun dengan waktu yang terbatas dari jam 10.00 sampai jam 13.00 wib. Setidaknya kami mendapatkan pelayanan kesehatan gratis,†ujar Yusra, ibu rumah tangga, salah satu penghuni barak. Untunglah para orang tua tak mengkhawatirkan masalah pendidikan formal anak-anaknya selama tinggal di barak.Tak jauh dari lokasi barak terdapat fasilitas pendidikan dari tingkat SD sampai dengan SMA. Sayangnya, kondisi barak yang ramai, tinggal berimpitan, tentu saja bukan kondisi yang baik untuk anak-anak belajar, dan ini mempengaruhi prestasi belajarnya. Dua tahun sudah berlalu. Kondisi hidup di barak serba darurat menganggu banyak kegiatan termasuk kegiatan yang bersifat pribadi dan akhirnya mempengaruhi kondisi sosial dan psikologis penghuninya. Haris mengatakan bahwa hingga kini sudah enam kali mereka terpaksa menikahkan penghuni barak yang terlibat dalam kasus mesum, “menurut saya salah satu faktornya adalah tidak tersedianya kamar mandi yang tertutup sehingga para wanita yang mandi bisa terlihat.†Penghuni barak tak tahu kapan mereka akan mendapatkan bantuan rumah. Banyak diantara mereka hanya pasrah atas nasib dan terpaksa mendiami barak dengan fasilitas seadanya, sumur umum, wc antri, sampah menimbun, ketimbang mulai hidup layak. “Kami tak sanggup bayar sewa rumah,†ujar Yusra, “saya hanya seorang guru bantu di TK Al-Ikhsan Prada,†imbuhnya. Jangankan membayar sewa rumah, ongkos transport setiap hari untuk pergi mengajar pun kadang ia tak punya hanya dengan mengandalkan gaji honornya. span lang=”IN”>Penghuni Cot Gu resah dengan ketidaktahuan dan ketidakjelasan keadaan ini. Mereka ingin segera direlokasi yang mendekati tempat kerjanya. Haris memberikan jaminan bahwa warga baraknya tidak akan berlama-lama menunggu ketika proses relokasi tiba. Warga akan keluar dari barak jika sudah mendapatkan bantuan rumah yang layak huni, dan tersedianya air bersih dan listrik, sarana pendidikan yang baik, tersedianya layanan kesehatan, serta akses mudah untuk pergi ke tempat pekerjaan. Sinta - Irish Red Cross)
Berita Lainnya :
- Korban Tsunami di Barak Kesulitan Air Bersih
- Melihat Nama
- Memadamkan Api
- Korban Tsunami Berstatus Penyewa Khawatir Tidak Mendapatkan Rumah
- WFP Evaluasi Terhadap Bantuan Di Aceh











Write a comment