H!NAMagazine.Com
Price List 80

Main menu:


aCeh MasterWeb

Arsip Berita


 
ANeukAceh.Com

Komentar Anda

Price List
Jualan Kaos

Google Search


[H!] WEB

  • Polling

    • Laptop UMPC apa yang menjadi pilihan anda ?

      • AXIOO CMPC 30GB (3,6jt)
      • ACER Aspire One 8GB (4jt)
      • ASUS Eee PC 8G (4,6jt)
      • ZYREX Ubud 311 30Gb (4,9jt)
      • ASUS Eee PC 20GB (4,6jt)
      • HP 2133 Mini-Note 120GB (6,4jt)
      • KOHJINSHA SA5SX04BS 40GB (6,6jt)

      View Results

      Loading ... Loading ...

    ARSIP POOLING

  • Kontiki 101.2FM Banda Aceh Flamboyan 105.2FM - Banda Aceh DariNol Smoking Card MinaNet Cafe Shelter Event Organizer Gorengan R-K
    Streamers.Asia

    Esai Foto (bag. 1)

    Thursday, 21/06/2007 - 02:58 WIB
    Saiful - Fotografi

    Esai Foto : Sebuah cara berkomunikasi

    Bercerita dengan gambar bukanlah merupakan hal yang baru. Cara tersebut telah dikenal sejak zaman Mesir purba, yang ditorehkan pada dinding-dinding makam, sampai komik modern seperti Sinchan. Dalam dunia fotografi usaha ini telah dimulai ketika Mathew Brady merekam perang saudara Amerika di penghujung abad ke-19. Foto-foto hasil jepretannya ditampilkan dalam bentuk seni dalam upaya memberikan gambaran yang utuh tentang peperangan.

    Pada awalnya foto-foto tampa perhitungan alur, sehingga lebih mirip kumpulan foto yang bergerombol. Tidak tersusun sehingga tidak mampu bercerita secara berurut. Barulah tahun 1915, The Illustrated London News menampilkan Perang Dunia I dengan perhitungan tata letak. Itupun kemudian terlihat sebagai bentuk susunan mosaik.

    Selain hambatan teknologi cetak, bentuk kamera yang lebih besar dan lensa yang hanya mempunyai diagfrahma (rana) yang kecil membuat pekerjaan fotografer menjadi lamban, sampai-sampai foto yang dihasilakanpun lebih banyak serdadu-serdadu yang mejeng. Penemuan halftone dalam dunia cetak menggantikan wood-cut, turut mendorong perkembangan esai foto. Tehnologi ini memungkinkan foto untuk tampil lebih akurat dan cepat.

    Pada tahun 1925, ketika kamera format kecil ditemukan, dengan lensa yang mampu merekam lebih leluasa pada kondisi minim cahaya, terbukalah kemungkinan untuk menampilkan aktifitas manusia apa adanya, foto-foto candit pun mulai berkibar. Dipelopori Eric Salomon. Untuk pertamakalinya potensi yang sesungguhnya dari esai foto mulai di explorasi.

    Munich Illustrated Press, sebuah majalah bergambar asal Jerman, menhadirkan atraksi sirkus dengan gaya laporan pandangan mata. Editor majalah tersebut, Stefan Lorant menampilkannya sebagai foto seri yang memperhitungkan tata letak dengan cermat. Kemudian berbagai kemungkinan terus dieksplorasi untuk menghadirkan impresi yang diinginkannya. Lorant bahkan memakai dasar warna hitam untuk menampilkan nuansa romantis bagi esai karya Brassai. Midnight in Paris. Rekaman Brassai mulai dari monumen hingga penghibur nightclub, dari café sampai pemabuk menggelosor di trotoar, satu persatu, foto demi foto disusun untuk membangun nuansa malam sebuah kota, menghasilkan foto yang memikat.

    Era keemasan
    Tehnik foto jurnalistik yang dikembangkan Lorant pada tahun 30-an mulai menarik perhatian penerbit asal Amerika. Pada masa itu, banyak fotografer Jerman yang hengkang ke Amerika untuk menghindari rezim Hitler. Dalam dekade yang sama, Life memproklamirkan sebuah manifesto yang intinya: untuk melihat kehidupan, melihat duinia, menjadi saksi nyata kejadian penting, menyaksikan wajah sedih kemiskinan dan gesture kebanggaan pada mereka yang berhasil, menyaksikan hal-hal aneh, mesin, tentara, bayang-bayang, menyaksikan karya manusia-lukisan, pencakar langit, penemuan baru, menyaksikan sesuatu yang baru, dibalik tembok, di dalam ruangan, sesuatu yang berbahaya.

    Terbitan perdana Life memuat berita pembangunan Fort Peck dam di Montana. Selain untuk sampul majalah, Margaret Bourke-White, sang fotografer, juga merekam kehidupan pekerja dan aktifitas keseharian mereka. Hasilnya tampil dalam bentuk esai foto yang kita kenal sekarang: penyatuan elemen-elemen terpisah dalam satu tema. Foto tidak hanya tampil seadanya sebagai kelompok, tapi ditata dalam kesatuan yang bercerita dalam sembilan halaman majalah.

    Esai foto ini berhasilkan membangkitkan romantisme masyarakat Amerika akan semangat kehidupan kaum frontir masa lalu. Sebuah rekaman yang sesuai dengan jargon “menghadirkan” dalam manifesto Life.

    Esai foto tentang keseharian
    Selama perang dunia ke II, selain Robert Cappa, salah seorang fotografer yang tekemuka adalah Leonard. Dia bergabung dengan Life pada usia 22 tahun. Setelah perang usai, masyarakat menginginkan berita pembangunan pasca perang. Tentang keseharian manusia. Untuk itu Leonard yang terkenal handal dalam pergaulan, ditugaskan untuk meliput kehidupan seorang wanita pekerja. Ia kemudian melibatkan diri dalam kehidupan subjeknya sedemikian dalam sehingga mereka mengabaikan kehadirannya sebagai forografer.

    Keberhasillan Leonard terlihat dalm esai fotonya “The Private Life of Gweyned Filling” . Segala sesuatu tentang tentang kehidupan gadis ini tidak lagi rahasia. Leonard bahkan mampu membuat pembacanya merasa seolah gadis tersebut adalah tokoh yang mereka kenal dekat. Sedekat adik, kakak, anak atau isteri mereka sendiri.

    Bercerita lewat gambar
    Maitland Edey, Editor dari staff redaksi Life, dalam bukunya Great Photographic Esaay from Life, menyatakan bahwa esai foto merupakn bentuk yang paling kompleks, dank arena itu paling menantang. Pekerjaan ini tidak hanya melibatkan fotografer tapi uga editor dan desain grafis yang bekerja.

    Dalam membangun sebuah esai foto, dibutuhkan seleksi dan pengaturan yang tepat agar foto-foto dapat bercerita lewat satu tema. Secara keseluruhan, masalah yang diangkat harusnya lebih dalam, lebih utuh, lebih imajinatif dan memberikan dimensi yang lebih luas dibandingkan yang dapat dicapai oleh foto tunggal.

    Subjek untuk esai foto bisa sangat beragam; bisa kejadian, tokoh, gagasan atau sebuah tempat. Cara penuturanyapun beragam pula; kronologis, tematik atau apa saja. Esai bentuknya fleksibel. Yang terpenting adalah foto-foto tersebut saling melengkapi, menjadi sinergi dalam bentuk alur cerita.

    Secara umum, seperti terlihat dalam contoh, foto-foto disusun menjadi cerita yang punya narasi atau alur. Foto pertama biasanya memikat, memancing pembaca untuk ingin tahu kelanjutan dari cerita tersebut. Selanjutnya foto-foto yang membangun badan cerita dan menggiring pemirsa ke puncak. Kemudian foto yang melengkapi cerita dan foto penutup yang berfungsi mengikat sekaligus memberikan kedalaman dan arti. >>[bersambung]

    ** Erik Prasetya-Bodi CH

    Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

    Berita Lainnya :

    Write a comment