H!NAMagazine.Com
Price List 80

Main menu:


aCeh MasterWeb

Arsip Berita


 
ANeukAceh.Com

Komentar Anda

Price List

RSS _MY Post IT

RSS _Aan Life Style

Jualan Kaos

Google Search


[H!] WEB

  • Polling

    • Browser Favorit anda adalah ?

      • Internet Explorer
      • Mozilla Firefox
      • Google Chrome
      • Netscape Navigator
      • Safari
      • Opera

      View Results

      Loading ... Loading ...

    ARSIP POOLING

  • Kontiki 101.2FM Banda Aceh Flamboyan 105.2FM - Banda Aceh DariNol Misdarul Iksan Shelter Event Organizer Gorengan R-K
    Streamers.Asia

    Esai Foto (bag. 2)

    Tuesday, 26/06/2007 - 06:19 WIB
    Saiful - Fotografi

    Contohkan beberapa esai foto.

    BERAPA PENDEKATAN UNTUK SEBUAH PENUGASAN

    Foto Tunggal

    Foto tunggal adalah foto yang dapat berdiri sendiri tampa perlu diterangkan oleh foto lain. Bila diberikan keterangan, foto tersebut sudah cukup menggambarkan semua yang mau diceritakan.

    Misalnya fotografer mendapat penugasan untuk memotretan peluncuran sejuta pasang sepatu merek NIKE yang akan di ekspor ke luar negeri. Beberapa pendekatan foto yang dapat dilakukan antara lain;

    1. Foto Peristiwa; Kita dapat mengambil peristiwa tersebut beserta seremonialnya
    2. Foto Umum; Kita juga bisa momotret direktur utama perusahaan tersebut sedang memegang sepatu yang akan di ekspor. Latar belakang/backround nya ratusan buruh yang sedang bekerja di ban berjalan.
    3. Foto Feature; Kita juga bisa momotret buruh-buruh yang sedang beristirahat sambil bercengkrama dengan rekan-rekannya.

    Sekarang kita sudah punya 3 macam foto tunggal. Salah satu foto dapat diberitakan tampa perlu tambahan foto lainnya.

    Foto Perbandingan

    Ketika kita mengamati mesin-mesin dan buruh, kita tentu saja menemukan hal-hal yang menarik perhatian. Tapi, akan segera terasa hasilnya hanyalah foto-foto statik yang tidak memberikan menggambarkan efesiensi. Untuk menggambarkannya kita perlu perbandingan, kecanggihan mesin versus tradisional. Karena penggambarannya tidak mungkin dalam satu foto, maka kita butuh dua foto. Pertama foto yang menggambarkan aktifitas pemotongan kulit dengan tangan, yang kedua dengan mesin pemotong. Bila keduanya disertai dengan keterangan yang berhubungan dengan kecepatan, maka pembaca akan dapat gambaran yang hidup tentang efesiensi perusahaan tersebut.

    Foto Sekuen

    Bila kita sangat terkesan melihat proses selembar kulit menjadi sepasang sepatu, kemudian memotret tahapan demi tahapannya maka kita punya foto sekuen.

    Foto Ilustrasi

    Misalkan seorang reporter telah ditugaskan untuk menulis artikel tentang pabrik itu. Setelah mewawancarai menejer dan buruh di pabrik, ia memberikan penekanan pada dua hal. Pertama, si menejer yang progresif; kedua, sistem pembuangan yang ramah lingkungan. Maka kita dapat memotret si menejer dengan latar belakang system pengolahan limbah pabrik yang canggih. Foto tersebut sifatnya memberi ilustrasi.

    Cerita foto butuh tema

    Misalkan lagi, untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh dari industri tersebut mengeksplorasi pabrik sehari penuh. Memotret menejer di depan meja kerja, para pekerja dengan ban berjalan, profil gedung yang megah, pengolahan limbah, mesin besar, foto detil dan banyak lagi lainnya. Secara keseluruhan foto-foto itu jauh lebih bercerita dibanding ilustrasi. Akan tetapi keseluruhan foto tersebut tidak dihubungkan dengan benang merah. Membaca akan melihat foto-foto tersebut sebagai elemen lepas, bukan merupakan kesatuan cerita.

    Ketika berkeliling mengamati pabrik kita mendapati bahwa meskipun pabrik tersebut bersih, modern, dan rapi, beberapa karyawan merasa lebih nyaman dengan menambahkan pernik-pernik tertentu pada alat kerja mereka. Misalnya, kursi seorang buruh wanita ditambah bantalan kursi empuk. Di sudut lain terlihat termos bergambar mickey mouse milik buruh lainnya. Ketika mengeksplorasi dengan seksama ada lagi yang menempel stiker kecil bertulisan “demi nyai” dan beberapa hal lagi ang menunjukkan sentuhan pribadi penambahan kenyamanan kerja di pabrik yang ultra modern. Alhasil, kita mendapatkan sejumlah foto yang terikat oleh satu tema. Foto yang memperlihatkan bagaimana para buruh mengadaptasi lingkungan yang serba mesin agar merasa lebih nyaman. Lebih sesuai dengan kebutuhan fisik dan psikologis mereka.

    Merancang sebuah cerita foto

    Masih penasaran dan ingin cerita menukik lebih dalam? Mungkin saja kita beruntung karena wanita yang duduk dengan bantalan kursi sepertinya menjanjikan cerita yang menarik. Taruhlah namanya Aida, 32 tahun, janda dengan satu anak, telah bekerja sebagai buruh 7 tahun. Untuk menghidupkan cerita, kita mulai mengikuti Aida beberapa jam sehari. Sampai dia merasa terbiasa dengan kehadiran kita dan kita dapat menghasilkan foto-foto yang wajar.

    Pada akhirnya foto-foto dapat disusun bagaikan sebuah cerita. Dibuka dengan gambar Aida yang memakai seragam tengah bekerja di pabrik. Senyumannya menyembul dari balik mesin seberat dua ton yang dalam semenit mampu menjahit 4 sepatu. Foto pertama ini akan memperkenalkan karakter tokoh kita pada pembaca, gambaran kepribadian dan pekerjaannya. Foto pertama diharapkan mampu mencuri perhatian pembaca sehingga tertarik untuk mengikuti kelanjutan cerita.

    Dalam cerita foto, tata letak tidak tergantung dari urut-urutan pengambilan foto. Jadi foto yang mana saja bisa dipakai asalkan memenuhi persyaratan, menarik perhatian dan memiliki pesan.

    Foto kedua menggambarkan Aida sedang tergesa-gesa mengantar anaknya ke sekolah naik bajaj. Walaupun bisa saja secara fotografis kurang menarik, tapi foto ini penting untuk melengkapigambaran akan tekanan situasi dan tanggung jawab si tokoh. Gambar berikutnya tentang sebuah pertemuan dengan sesama buruh. Wajah-wajah mereka tegang merundingkan sesuatu, tuntutan kenaikkan upah. Seterusnya adalah gambar Aida dan beberapa rekan sedang menyampaikan usulan tersebut kepada direksi. Kedua foto ini penting karena memberikan penjelasan yang mengikat cerita, meluas kedalaman dan arti cerita.

    Foto berikutnya menggambarkan kekecewaan para pekerja, ketika Aida dan rekannya diberitahukan bahwa tuntutan mereka ditolak. Dan, puncaknya adalah foto Aida sedang mogok kerja – berdemo dengan buruh lainnya menuju gedung MPR. Sebagai penutup, foto yang menggambarkan kesedihan di wajah Aida yang menerawang dibalik terali besinya Polda.

    Seperti dalam cerita pendek, cerita foto harus punya alur. Dengan foto pembuka cerita sehari bersama buruh pabrik sepatu ini memperkenalkan tokoh utamanya pada pembaca, kemudian membawa pada cerita selanjutnya. Menggiring pada klimaks dengan sebuah foto puncak. Dan sebagai penutup, foto yang menyelesaikan masalah dan menutup cerita.

    Jadi disini pembacakan diajak untuk melihat pabrik sepatu melalui kacamata seorang buruh. Mengikuti apa yang terjadi dengan Aida. Keseharian dalam kehidupan si tokoh akan menarik perharian pembaca karena difokuskan hanya pada satu orang. Gambaran kegembiraan, kesedihan, konflik dan kegagalan yang dialami tokoh akan menggugah rasa simpati pembaca.

    [Bersambung]

    ** Erik Prasetya-Bodi CH

    Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

    Berita Lainnya :

    Liberty Reserve

    Comments

    Comment from dhana
    Time: March 9, 2008 - 2: 01 pm, 2:01 pm

    saya Dhana, mahasiswa Fikom Untar semester 4..
    boleh saya ambil judul foto essay anda untuk judul skripsi saya??
    kebetulan saya hobby d bidang fotografi..
    klo boleh tau,,
    bisa kita ketemu??
    tlg reply alamat dan no tlv anda..
    sebelum dan sesudahnya mohon maaf dan termakasih..

    Comment from angela
    Time: April 15, 2008 - 2: 37 pm, 2:37 pm

    aduh booooo g binggung nih ama tugas tentang menejemen sekertaris moderen nih tolongin dong yang berbau dengan menejemen sekertaris secepatnya di kirim via imel aja yah thx:)

    Comment from Popi
    Time: June 30, 2008 - 1: 21 pm, 1:21 pm

    Saya lagi belajar motret, dan googling nemu website ini. Senangnyaa! makasih ya infonya. Sangat berguna

    Write a comment





    Save Atom InoFund.Com CentASIA Stoic EkoFund