Korban Tsunami di Barak Kesulitan Air Bersih
Wednesday, 26/12/2007 - 09:11 WIBRoni Muchtar - Aceh Hari Ini
Puluhan korban tsunami yang masih tinggal di barak hunian sementara (huntara) di Kota Banda Aceh terpaksa menggunakan air asin untuk mencuci dan mandi karena pasokan air bersih tidak lagi didistribusikan ke barak-barak tersebut. “Untuk mencuci dan mandi kami terpaksa menggunakan air asin karena tidak ada lagi truk tangki yang mendistribusikan air bersih,” kata salah seorang penghuni barak huntara Lhong Raya, Nuraida, di Banda Aceh, Selasa (25/12).
Sementara itu, untuk kebutuhan minum dan memasak sehari-hari mereka terpaksa mengeluarkan uang sebesar Rp10.000/hari untuk membeli air bersih.
Menurut koordinator barak huntara Lhong Raya, Andi Mansur, berhentinya pendistribusian air bersih oleh truk-truk tangki ke barak mereka telah berlangsung sejak sekitar setahun terakhir.
Keadaan tersebut, menurut dia, cukup memberatkan mereka yang sebagian besar berstatus penyewa sebelum tsunami dan memiliki pekerjaan tidak tetap, seperti penjual dan tukang becak yang penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena status mereka penyewa sebelum tsunami, hingga saat ini sekitar 130 KK terpaksa bertahan di belasan unit barak di Lhong Raya karena belum dibangun rumah.
“Karena sebagai penyewa kami masih tetap bertahan meskipun kondisinya seperti ini,” kata Andi.
Selain tidak mendapatkan distribusi air bersih, menurut dia, sejak setahun terakhir juga tidak ada lagi bantuan untuk mereka.
Tidak hanya penghuni barak Lhong Raya yang mengkonsumsi air asin, sekitar 48 KK yang masih tinggal di barak huntara Ulee Lheue juga mengalami hal yang sama.
Rina, salah seorang penghuni barak huntara Ulee Lheue mengaku juga mengkonsumsi air asing untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan mencuci.
Penghuni kawasan pesisir Kota Banda Aceh itu mengaku telah mendapatkan rumah tetapi karena letaknya jauh dari laut yang merupakan lahan mata pencaharian keluarga sebagai nelayan ia terpaksa kembali ke barak.
“Tidak tahu sampai kapan masih di barak, meskipun yang ada hanya air asin dan panas serta diterpa angin tetapi kami tetap bertahan jika rumah tidak dibangun disini,” katanya.
Hingga tiga tahun pasca musibah gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh akhir Desember 2004, ribuan korban tsunami masih menetap di barak huntara maupun rumah sementara.(*)
Copyright © 2007 ANTARA
Berita Lainnya :
- Korban Tsunami Berstatus Penyewa Khawatir Tidak Mendapatkan Rumah
- Barak Cot Gu
- Barak Dibongkar, Di Manakah Pengungsi Tinggal?
- Melihat Nama
- Memadamkan Api











Write a comment