H!NAMagazine.Com
Price List 80

Main menu:


aCeh MasterWeb

Arsip Berita


 
ANeukAceh.Com

Komentar Anda

Nomor Cantik Price List
Jualan Kaos

Google Search


[H!] WEB

  • Polling

    • Laptop UMPC apa yang menjadi pilihan anda ?

      • AXIOO CMPC 30GB (3,6jt)
      • ACER Aspire One 8GB (4jt)
      • ASUS Eee PC 8G (4,6jt)
      • ZYREX Ubud 311 30Gb (4,9jt)
      • ASUS Eee PC 20GB (4,6jt)
      • HP 2133 Mini-Note 120GB (6,4jt)
      • KOHJINSHA SA5SX04BS 40GB (6,6jt)

      View Results

      Loading ... Loading ...

    ARSIP POOLING

  • Kontiki 101.2FM Banda Aceh Flamboyan 105.2FM - Banda Aceh DariNol Smoking Card MinaNet Cafe Shelter Event Organizer Gorengan R-K
    Streamers.Asia

    Perdamaian Aceh Berada Diambang Keraguan

    Minggu, 20/01/2008 - 17:29 WIB
    Roni Muchtar - Opini, Umum

    Konflik yang panjang dan kerja keras semua pihak akhirnya melahirkan perdamaian Aceh yang di sebut : Nota Kesepahaman antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka. Penandatanganan MoU ( Memorandum Of Understanding ) di Helsinki dengan rumusan yang merinci isi persetujuan yang di capai dan prinsip-prinsip yang
    akan memandu proses transformasi, dengan tekat untuk membangun rasa saling percaya, dan di anggap oleh pihak yang bertikai telah memenuhi tuntutan bagi penyelesaikan konflik panjang di Aceh.

    Masyarakat Aceh yang sudah cukup troma dengan konflik tentunya merasa senang
    dengan kesepakatan perdamaian.Tidak hanya rakyat Aceh, setiap manusia yang
    hidup di Dunia tetap ingin merasa hidup ini damai, bahkan semua kita ingin
    menikmati kehidupan yang sangat istimewa ini, disebab hidup ini hanya sekali
    saja maka kesempatan yang hebat ini harus betul-betul di jaga dan tidak di
    sia-siakan, begitu juga dengan kesempatan damai yang istimewa ini harus di
    jaga oleh semua orang karena sangat sulit untuk datang yang keduakali.

    Menyikapi berbagai di lema dalam keberlangsungan proses damai di Aceh saat
    ini yang menurut kami sedang berada pada tahap yang meragukan, indikasi ini
    di dasari dengan munculnya berbagai konflik baru di Aceh akibat lemahnya
    nilai kontrol perdamaian yang telah di rebut dengan susah payah.

    Meningkatnya kekerasan di Aceh yang berupa tindakan kriminal yang cukup
    meresahkan rakyat dan tidak terselasaikan dengan baik, menurut kami di
    karenakan lemahnya sistim dan lambatnya penanganan pemerintah terhadap
    berbagai tuntutan rakyat di seluruh Aceh.

    Keterlibatan Polisi Indonesia yang di tempatkan di Aceh dalam beberapa kasus
    kekerasan selepas MoU ( Memorandum Of Understanding ) adalah sesuatu yang
    sangat bertentangan dengan harapan semua pihak agar Aceh betul-betul damai,
    Adil, sejahtra dan Demokrasi, dan ini merupakan tugas pemerintah yang sah di
    aceh untuk menolak polisi Indonesia yang tidak menjunjung tinggi nilai-nilai
    HAM bekerja di Aceh.

    World Acehnese Association ( WAA  ) melihat bahwa Konflik Aceh yang berhasil
    di Hentikan di Meja perundingan di Helsinki pada 15 Agustus 2005 mulai
    pelan-pelan di giring kepada konflik yang baru.

    Tidak mulusnya Perjalanan perjanjian damai MoU ( Memorandum Of Understanding
    ) di Aceh , seperti pembiaran pelanggaran HAM yang telah lalu tanpa
    secepatnya membentuk pengadilan kusus tentang dan membawa mereka yang
    terlibat kemahkamah, belum di bebaskannya beberapa tahanan GAM di dalam
    penjara Indonesia, merupakan kelemahan nyata proses perdamaian Aceh yang
    sedianya di tanda tangani dan disaksikan di seluruh dunia, dan ini merupakan
    salah satu gambaran kusus kepada kita bahwa perdamaian Aceh sedang tidak
    berada pada garisnya.

    Sikap keras pemerintah Indonesia yang tidak mau merivisi UUPA sesuai dengan
    MoU ( Memorandum Of Understanding ), Perdebatan hebat terhadap munculnya
    Partai GAM dan Pembayaran Dana Integrasi yang terus di Politikkan menambah
    bukti bahwa Perdamaian Aceh sedang kembali di jadikan alat politik oleh
    pihak pemerintah dan orang – orang yang berkepentingan dan jika hal ini
    tidak segara di akhiri maka akan memperpanjang penderitaan rakyat Aceh yang
    notabene Aceh sudah Damai.

    Maka berdasar gambaran di atas World Acehnese Association ( WAA  ) meminta
    solidaritas masyarakat dunia untuk membantu mendukung dan menyelamatkan
    perdamaian Aceh.
    Tokoh-tokoh dunia yang sudah bersedia membantu mengakhiri konflik di Aceh
    untuk tidak memulai mengundurkan diri dari tugas yang mulai ini, namun di
    harap membantu mendesak pemerintah Indonesia dan kakitangannya di Aceh untuk
    bekerja sesuai dengan MoU ( Memorandum Of Understanding ) agar rakyat Aceh
    tidak troma dengan perjanjian damai dan bisa percaya dengan apa yang sedang
    berlangsung, dan hal ini untuk meminimalisir Konflik di Aceh kembali terbuka
    yang akan mengakibatkan kembali terjadinya pelanggaran HAM secara
    besar-besaran  dan hancurnya proses demokrasi yang baru di mulai.

    Martti Ahtisaari ( Former President of Finland,Chairman of the Board
    Directors of the Crisis Management Initiative,Facilitator of the negatiation
    process ) , Malik mahmud ( On behalf of the Free Aceh Movement : leadership
    ), Hamid Awaludin ( On behalf of the Government of the Republic of Indonesia
    : Minister of Law and Human Rights ) di desak agar terus mencari solusi
    terbaik semoga perdamaian di Aceh benar-benar kekal dan di nikmati oleh
    rakyat.

    World Acehnese Association ( WAA  ) mendesak kepada berbagai pihak di Aceh
    untuk tidak lagi menggunakan propaganda sebagai alat dalam mengaut
    kepercayaan dari rakyat.
    Marilah semua kita lebih Kreatif dan agresif dalam membentuk rumusan dan
    mekanisme baru yang berpihak kepada rakyat, sekaligus bagi menyelamat
    perdamaian ini untuk memenuhi kehendak seluruh rakyat Aceh sebagai pemegang
    kedaulatan yang sebenarnya dan berhenti mempolitisir semua masaalah di Aceh.

    Kepada seluruh rakyat Aceh World Acehnese Association ( WAA  ) meminta agar
    lebih terbuka menyuarakan hak dirinya sendiri sebagai rakyat, tentunya semua
    ini di lakukan dengan cara damai dan tidak dengan kekerasan.
    Jika Rakyat dan seluruh komponen di Aceh berdiam diri atas berbagai fonomena
    yang terjadi di Aceh hari ini maka sampai kapanpun kita sebagai rakyat tidak
    akan mendapat hak kita dan akan terus menjadi hamba di tanah kelahiran.

    Written by : Tamizi Age
    World Acehnese Association ( WAA  )

    Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

    Berita Lainnya :

    Comments

    Comment from Siwok
    Time: April 23, 2008 - 11: 07 am, 11:07 am

    maunya kalau buat tulisan. nama penulisnya di atas. biar kita lebih cepat tau siapa penulisnya.
    thanks,,

    Write a comment