“Perempuan Menuntut Malam”
Sabtu, 22/03/2008 - 17:38 WIBRoni Muchtar - Event
Untuk peringatan Hari Perempuan Sedunia 2008, Institut Ungu dan Yayasan Pitaloka, didukung oleh Kedutaan Finlandia di Jakarta, Hivos dan Komunitas Tikar Pandan mempersembahkan pentas teater monolog berjudul “Perempuan Menuntut Malam”. Naskah monolog ini ditulis bersama oleh Rieke Diah Pitaloka, Faiza Mardzoeki dan Tati Krisnawaty.Mereka menemukan kegelisahan yang sama atas situasi perempuaan di Indonesia saat ini. Kegelisahan ini lantas dituangkan menjadi naskah monolog tiga perempuan dan terbagi dalam 3 naskah yakni: tentang Perempuan Politisi Anggota Parlemen, berjudul “Pagi Yang Penuh”, dimainkan oleh Rieke Diah Pitaloka, monolog ke dua berjudul “Sepiring Nasi Goreng”, kisah seorang Ibu Rumah Tangga, dimainkan oleh Ninik L Karim dan monolog “Tarian Sang Empu” yang dibawakan oleh Maryam Supraba, berkisah tentang Perempuan Kawin Bawah Tangan. Mereka akan bicara soal Cinta, Rumah, Politik dan Kekuasaan.
Ketiga monolog tersebut merupakan hasil permenungan dan pengamatan sehari-hari. Ceritanya cukup akrab dengan kehidupan kita baik di Aceh, Bandung, Jakarta maupun di Indonesia pada umumnya. Ini adalah kegelisahan kaum perempuan di mana saja.
Ketiganya telah melakukan latihan 3 bulan penuh demi memainkan peran yang naskahnya sarat dengan sentilan kritis, diwarnai kelucuan-kelucuan dan hal-hal yang mengharukan. Mereka akan mengajak kita semua untuk merenungkan apa yang sedang terjadi dengan perempuan Indonesia dan merefleksikan situasi politik paling aktual yang terjadi di negeri ini.
Teater Monolog “Perempuan Menuntut Malam” yang diproduseri oleh Faiza Mardzoeki dan Rieke Diah Pitaloka ini sebelumnya telah dipentaskan di Jakarta pada tanggal 8-9 Maret lalu.
Di Banda Aceh, “Perempuan Menuntut Malam” ini akan dipentaskan di Gedung Tertutup Taman Budaya dan dimulai pukul 20.00
Sutradara pementasan ini, Zuki a.k.a. Kill The DJ, seorang seniman muda dari Jogjakarta yang baru selesai menjadi pengarah dramartugi pada pertunjukan Monolog Sarimin oleh Butet Kertarejasa. Zuki juga seorang penyanyi hip hop yang suka “meng-hip hop-kan” puisi-pusi indah. Pementasan ini akan menggunakan media properti panggung yang sangat minimalis dan memanfaatkan video rekam yang diintegrasikan sebagai set panggung sekaligus naskah cerita itu sendiri. Videografi ini dikerjakan oleh Chandra Hutagaol, musik ditangani oleh Balance Perdana Putra, soundscape dikerjakan bersama antara Zuki dan Yoseph Herman Susila dan tata cahaya oleh Azies Dyink serta tata kostum oleh Maman Suherman.
Kita akan menyaksikan pentas teater monolog dengan sajian yang berbeda. Selain tiga aktor yang cukup lama akrab dengan dunia panggung dan film, kita juga akan menyaksikan karya video art dan musik yang “berbicara”.
Harapan kami, masyarakat Aceh akan menyambut persembahan kami dan dapat memetik manfaaat dari pentas monolog perempuan ini.
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Kedutaan Finlandia di Jakarta, HIVOS dan Komunitas Tikar Pandan yang telah bekerja keras mewujudkan pentas di Aceh.
Terima kasih pula kami sampaikan kepada UNIFEM Aceh dan peserta seminar “Women’s Political Participation: Towards Gender Responsive Democratic Governance in Aceh” yang akan datang secara khusus mengapresiasi pentas monolog ini.
Juga kepada semua pihak yang telah membantu dengan bekerja keras, memberi semangat, ide-ide kreatif, maupun dukungan dana dan materi lainnya, kami sampaikan penghargaan yang sedalam-dalamnya.
Selamat menyaksikan Pentas Teater Monolog “Perempuan Menuntut Malam”
PRODUKSI INSTITUT UNGU dan YAYASAN PITALOKA














Write a comment