Profil Tarmizi Harva
Senin, 31/03/2008 - 13:43 WIBRoni Muchtar - Profil
MALAM itu, pertengahan Februari 2008, sejumlah wartawan muda berkumpul di
halaman Kantor Berita Antara biro Banda Aceh. Kantor ini tak jauh dari
Masjid Raya Baiturrahman. Ini tempat kumpul-kumpul mereka saban sore, seusai
liputan. Seorang wartawan dikerubungi rekan-rekannya. Ia tengah membalik-balik
halaman buku berjudul Inferno. Buku itu seukuran tabloid, bersampul hitam.
Inferno, artinya neraka, dalam bahasa Indonesia.
Inferno memuat foto-foto hasil jepretan James Nachtwey, seorang fotografer
kelas dunia yang kerap hadir di wilayah perang. Beberapa kali Nachtwey
diganjar penghargaan bergengsi untuk karyanya.
Di buku itu Nacthwey memotret anak-anak yang terjangkit HIV dalam asilum di
Rumania, jejak kebiadaban perang di Rwanda, maupun orang-orang kelaparan di
Somalia. Ia juga membidik perang etnik dan kuburan massal di Bosnia.
³Benar-benar jahanam!² umpat lelaki itu, sembari menggeleng.
Jari-jarinya sibuk menguncir rambut panjang ikalnya. Matanya kemudian
tertuju pada kumpulan wartawan muda yang terhanyut memperhatikan isi buku
tersebut. Ada yang menutup mulut dengan tangan. Ada yang geleng-geleng.
Lelaki yang mengumpat itu bernama Tarmizy Harva. Ia membeli buku itu lewat
seorang sahabatnya yang tengah berada di Singapura. Harganya cukup mahal,
sekitar 125 dolar.
³Saya butuh waktu dua hari memperhatikan detail tiap foto-foto di situ. Dan
tiap selesai satu halaman, rasanya mau langsung ke lapangan. Hunting foto,²
ujarnya terkekeh.
Selain kagum pada karya Nacthwey, ia juga kagum pada profesionalisme sang
fotografer. Di film dokumenter The War Photographer terlihat bagaimana
Nachtwey bekerja dengan kameranya. Dingin. Teliti. Rapi. Dekat sekaligus
berjarak dengan objek.
Beberapa hari setelah Aceh dilanda tsunami, Nachtwey terbang ke Aceh.
Tarmizy pun melihat langsung bagaimana Nachtwey bekerja. Tapi ia tak sempat
menyapa fotografer idolanya. Tak ada waktu. Masing-masing sibuk dengan
kamera. Memotret, memotret, dan memotret.
GUNUNG Sibayak, dataran tinggi Karo, 1991. Hawa dingin menusuk hingga ke
tulang. Edward Sinaga bersama sejumlah sahabatnya mengadakan lomba mendaki
gunung berketinggian di atas 2000 meter itu. Edu, begitu panggilannya,
adalah wartawan harian Poskota di Medan. Ia dekat dengan komunitas mahasiswa
pecinta alam di Medan. Ia juga dikenal para mahasiswa sebagai salah seorang
senior dalam fotografi.
Edu melihat seorang mahasiswa berbadan agak tinggi, berambut gondrong.
Pemuda itu adalah pemenang pertama untuk kategori perorangan. Edu berkenalan
dengannya. Nama lengkap si mahasiswa: Tarmizy Harva. Ia kuliah di tingkat
tiga jurusan Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara.
Setelah itu, Edu makin akrab dengan Tarmizy. Suatu ketika ia main ke tempat
kos Tarmizy dan melihat beberapa lukisan karya si pemilik kamar.
Edu berpikir untuk mengajaknya belajar fotografi. Alasannya kuat, Tarmizy
sudah memiliki dasar pengetahuan di bidang lukis.
³Karena dia sudah lebih paham tentang warna, komposisi dan lain-lain,² kata
Edu.
Akhirnya Edu benar-benar mengajak Tarmizy untuk mempelajari fotografi. Edu
menjemputnya untuk ikutan klab fotografi. Tawaran itu ditolak mentah-mentah.
Alasan Tarmizy, ia belum tertarik dengan dunia potret-memotret.
³Hobi fotografi sangat mahal. Apalagi saya juga belum punya kamera,² kilah
Tarmizi.
Edu menawarkan kamera miliknya untuk dipinjam Tarmizy. Sebuah kamera
otomatis. Tapi Tarmizy menolak.
Pada 1993, Tarmizy akhirnya membeli sebuah kamera dari hasil tabungannya
menjalani usaha sablon. Kamera itu merek RICOH. Kini gilirannya mendatangi
rumah Edu. Tarmizy menunjukkan kamera yang menurutnya kamera bagus.
³Bagaimana menurut Abang?² tanya Tarmizy.
Edu mengamati kamera itu.
³Kamera kaleng cebok kau beli!²
³Awas Abang!² sungut Tarmizy. Kecewa bercampur marah. Tapi minatnya terhadap
fotografi justru tak surut.
³Nanti aku beli yang bagus!²
³Cari kamera yang lain lah. Kalau bisa Canon FM2 atau Pentax K1000,² kata
Edu.
Menurut Edu, kamera itu tak akan bisa mendukung kemajuan Tarmizy di bidang
fotografi. Malah, Edu khawatir, gara-gara kamera itu Tarmizy bakal
menyurutkan niatnya mendalami fotografi. Setelah pertemuan itu Edu tak lagi
bicara masalah fotografi.
Menjelang akhir 1996, seorang teman Tarmizy menjual kamera Pentax K1000.
Harga barang second itu sekitar Rp 250 ribu. Ini salah satu kamera yang
direkomendasikan Edu. Namun Tarmizy tak gegabah. Sebelum membelinya, ia
mesti memeriksa kualitas barang itu lebih dulu. Apalagi, ia masih awam soal
kamera. Tarmizy kembali mendatangi rumah Edu dan menunjukkan kamera bekas
itu. Setelah mendengar komentar ³kamera kaleng cebok², Tarmizy menganggap
Edu seperti dokter kamera baginya.
³Bang, coba periksa dulu deh yang ini.² Tarmizy menyodorkan kamera Pentax
K1000.
³Oke. Ini bagus.²
Tarmizy terpaksa mengambil tabungan dari hasil usaha sablon untuk memiliki
kamera tersebut. Dua hari setelah itu, Tarmizy kembali mendatangi Edu dan
menyatakan keinginannya belajar fotografi. Ketika itu klab fotografi yang
dibina Edu sudah bubar. Dari sekitar 10 anggotanya, tak satu pun yang
Œmengorbit¹.
³Kau serius mau belajar?² tanya Edu.
Tarmizy mengiyakan.
³Kalau kau memang serius, oke!² Edu melanjutkan. Ia memberi Tarmizy diktat
tipis tentang fotografi yang ia buat sendiri; catatan yang difotokopi.
Isinya cukup sederhana dan mudah dipelajari. Misalnya, soal istilah
fotografi dan bagaimana mengatur cahaya.
Tarmizy membaca panduan itu sambil mempraktikkannnya dengan kameranya. Ia
mendiskusikan foto yang dihasilkannya dengan Edu. Setelah dua-tiga kali
pertemuan, Tarmizy tak lagi menemui Edu.
Pada September 1997, Tarmizy mengirim foto hasil jepretannya untuk ikut
lomba foto olahraga tingkat nasional. Lomba tadi memperebutkan piala Menteri
Pemuda dan Olahraga Hayono Isman. Beberapa minggu kemudian, Tarmizy dapat
telegram. Ia jadi juara harapan kedua. Ia kembali mendatangi rumah Edu,
mengabarkan kemenangannya. Mentornya itu pun turut bangga.
AWAL 1998, sejumlah mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang antusias dalam
fotografi berkumpul di rumah Andi Kurniawan Lubis di kawasan Ayahanda, pusat
kota Medan. Lubis redaktur foto harian Analisa Medan. Mereka berniat
membentuk perkumpulan fotografi. Mereka bikin rapat. Mereka berdiskusi di
kantor sekretariat Kelompok Lingkungan Sangkala. Mahasiswa-mahasiswa ini
sepakat mendirikan Forum Studi Fotografi Merdeka. Di antara mereka yang
hadir itu tampak Hotli Simanjuntak dan Tarmizy Harva.
Namun, Tarmizy hanya sempat mengikuti beberapa kali kegiatan perkumpulan
fotografi itu. Ia malah membentuk klab fotografi sendiri bersama lima teman.
Klab itu bernama Siluet Fotografi. Kantor sekretariatnya di Jalan Multatuli
Medan dan Jalan Sriwijaya 80. Ini klab komersil. Tarmizy dan kawan-kawan
ikut mengajukan proposal ke panitia World Rally Championship awal tahun 1998
di Medan. Proposal mereka diterima. Tugas mereka mendokumentasikan kegiatan
reli internasional ini.
³Kami ketemu lagi di UKM (unit kegiatan mahasiswa) Fotografi USU,² kisah
Hotli.
Saat itu anggota-anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Fotografi rajin meliput
aksi demonstrasi mahasiswa di Medan. Menjelang Mei 1998, amarah mahasiswa di
hampir seluruh wilayah Indonesia tengah memuncak. Begitu juga di Medan.
Mereka turun ke jalan. Menuntut diktator Suharto turun. Memprotes korupsi,
kolusi, dan nepotisme yang dipopulerkan Suharto dan anak-anaknya. Aksi-aksi
kolosal mahasiswa itu jadi momen penting untuk membangun kemampuan dalam
memotret.
³Saya dan Tarmizy jadi sering hunting foto bareng dan bikin pelatihan,²
kenang Hotli.
Sebagian fotografer amatir ini mengirim foto-foto hasil jepretan mereka ke
media lokal. Ada sebuah kebanggaan bila karya foto mereka bisa dimuat media
massa. Ada yang mulai tertarik untuk bekerja di media. Dan memilih tidak
meneruskan kuliah. Godaan itu juga membangkitkan niat Tarmizy bergabung di
media. Tapi saat itu ia sudah berjanji kepada sang ayah, Sofyan Harva, untuk
menyelesaikan studi lebih dulu.
³Saya berdoa, kalau saya tamat saya harus lebih dari teman-teman. Bekerja
untuk media nasional.²
Tahun 1999 awal, ketika badai reformasi pelan-pelan mereda, Tarmizy berhasil
mengantongi gelar sarjana teknik setelah delapan tahun kuliah di jurusan
Teknik Sipil USU. Janjinya kepada sang ayah terpenuhi. Ia juga menikahi
Nilasari, perempuan yang dikenalkan seorang sahabatnya.
Tak lama setelah lulus, Bambang Sudjiartono, reporter majalah mingguan Tempo
di Medan mengajak Tarmizy menjadi kontributor foto di Medan. Tawaran itu
seperti jawaban atas doanya. Bekerja untuk sebuah mingguan nasional beroplah
besar tak berarti honornya juga besar. Foto yang dimuat juga amat jarang.
Selain menjadi kontributor foto, buat menutupi kebutuhan Tarmizy nyambi
kerja di perusahaan konstruksi. Tapi ia tak tahan dengan kerja sambilan itu.
Ia ingin jadi fotografer lebih serius dan berharap bisa terbang ke Jakarta.
Di sana media-media raksasa berkumpul dan berebut iklan hingga pelanggan.
Dari koran, tabloid, majalah, situs, radio hingga televisi. Gemerlap
industri media di kota ini pun jadi magnet bagi orang-orang muda di luar
Jawa.
³Kayaknya, jadi fotografer kalau nggak di Jakarta nggak seru,² gumamnya.
Kesempatan itu mulai terbuka pada Februari 2000 saat majalah mingguan Gamma
buka lowongan untuk posisi fotografer. Meski ragu bakal lolos, ia segera
kirim lamaran. Tak lama setelah itu ia menerima telepon dari Jakarta,
panggilan untuk wawancara. Ia segera terbang ke Jakarta dan menginap di
rumah Dedy Mahdan di bilangan Ciputat. Keduanya bersahabat sejak sama-sama
di USU dan bergabung di UKM fotografi. Dedy juga meminjamkan kamera Nikon
F-4 agar Tarmizy bisa mengikuti sederet ujian masuk. Wawancara, psikotes,
danŠ Tarmizy berhasil.
Enam bulan kontrak pertama di Gamma, Tarmizy ditugaskan mengambil foto-foto
untuk halaman ekonomi dan teknologi informasi. Kariernya naik. Ia diangkat
sebagai karyawan. Tapi tugasnya berubah. Kini ia dipercaya rekan-rekannya
memotret untuk halaman hiburan. Ia membidik wajah-wajah artis sinetron,
penyanyi, hingga presenter ternama. Tapi ia juga kerap alpa nama-nama
selebritis yang ia potret. Alhasil, ia kerap dikibuli rekan-rekan sesama
wartawan karena keliru nama artis.
Tantangan meliput dunia glamor itu hanya bertahan dua bulan. Saban akhir
pekan, para selebritis justru banyak acara. Ia mengeluh tak bisa istirahat.
Kejenuhan melanda. Ia berdoa agar bisa bekerja di kantor berita asing. Ia
berharap agar foto-foto hasil jepretannya bisa dimuat lebih luas. Melampaui
batas Indonesia.
JAKARTA, Februari 2002. Telepon seluler Tarmizy berbunyi. Peneleponnya
adalah Enny Nuraheni. Ia adalah chief photographer kantor berita Reuters.
Enny mengungkapkan bahwa Reuters butuh fotografer untuk meliput konflik di
Aceh. Saat itu situasi Aceh tengah panas. Militer Indonesia mengadakan
operasi hingga ke kampung-kampung. Kontak senjata terjadi hampir tiap hari.
Sekolah dibakar. Warga ketakutan. Konflik Aceh menjadi sorotan media-media
nasional dan internasional.
³Kamu mau nggak?² Enny bertanya.
Tarmizy agak kaget. Tawaran itu datang begitu cepat, meski ia sebelumnya
pernah mendengar kabar yang sama dari Arbain Rambey. Arbain menjabat kepala
biro Kompas untuk Sumatera Bagian Utara yang meliputi wilayah Aceh, Sumatera
Utara, Riau dan Sumatera Barat. Kantornya di Medan. Ia juga ketua umum
Pewarta Foto Indonesia. Di Medan, Arbain akrab dengan komunitas pecinta
fotografi di Medan. Arbain menceritakan kekosongan posisi fotografer untuk
meliput Aceh di kantor Reuters. Lewat Arbain pula, Enny mendapat nomor
telepon seluler Tarmizy.
³Sebentar Mbak. Kasih saya waktu seminggu,² balas Tarmizy. ³Saya mesti
bicara dengan keluarga dulu.²
Tarmizy segera menghubungi Nilasari di Medan. Tawaran ini memperpendek jarak
antara Tarmizy dengan keluarga. Jarak Medan-Aceh tak terlalu jauh dibanding
Medan-Jakarta. Meski begitu, risiko meliput di konflik Aceh jauh lebih
berbahaya ketimbang meliput wajah dan aksi glamor selebritis Jakarta.
³Kalau kamu memang yakin, saya dukung.² Nilasari merestui.
Beragam pertimbangan dikumpulkan. Tarmizy juga menghubungi kawan lamanya,
Hotli Simanjuntak yang lebih awal berada di Aceh. Hotli bekerja sebagai
stringer fotografer untuk kantor berita Agence France-Presse (AFP). Arbain
Rambey merekomendasikan Hotli ketika kantor berita asing itu mencari
fotografer untuk liputan Aceh. Hotli jadi stringer pertama untuk kantor
berita asing yang bertugas di Aceh. Tarmizy menanyakan seputar kondisi Aceh.
Persoalan keamanan bagi wartawan, liputan, hingga masalah penghasilan
sebagai stringer kantor berita asing tak luput ia tanyakan.
Seminggu kemudian, giliran Tarmizy menelepon Enny dan menyatakan
kesediaannya jadi stringer Reuters di Aceh. Enny memintanya ikut pelatihan
singkat di kantor Reuters, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta. Selama
sepekan, Enny membekali Tarmizy pengetahuan tentang foto-foto berita untuk
konsumsi internasional. Sebab, angle foto-foto untuk majalah berbeda dengan
kantor berita asing. Tarmizy juga diajarkan bagaimana memindai foto film
negatif dan mengedit foto dengan Photoshop, peranti lunak pengolah-citra,
yang selama di Gamma tidak pernah ia pelajari.
Selama training, Tarmizy masih tetap bekerja di Gamma. Alasannya, jika ia
tidak kerja, praktis tidak punya penghasilan. Ia menggunakan kamera Gamma
selama pelatihan. Sebab di Reuters para stringer harus memakai kamera
sendiri. Ia amat beruntung ketika kawan-kawannya di Gamma bersedia
meminjamkannya kamera. Namun Enny meminta agar Tarmizy keluar dulu dari
Gamma. Tarmizy menyanggupi. Tapi Enny seperti belum percaya bila ia sudah
mengundurkan diri dari Gamma.
³Kamu betul sudah keluar dari Gamma?²
³Sudah.²
³Itu kamera siapa?²
³Gamma.²
³Kalau sudah keluar kenapa masih pakai kamera Gamma?²
³Syukurnya, dalam bekerja saya selalu jujur. Setelah saya keluar masih
dipercaya untuk dipinjamkan. Apa perlu besok saya bawa surat pengunduran
diri saya?²
³Oh, nggak perlu.²
MEDAN konflik di Aceh ibarat neraka dibanding surga panggung gemerlap
selebritis Jakarta. Tarmizy dipaksa beradaptasi. Wangi parfum dan wajah
cantik berganti amis darah dan wajah-wajah penuh luka dan amarah. Tapi untuk
mendapat foto yang memenuhi standar internasional juga tak gampang dipahami
fotografer pemula. Bekal ilmu pelatihan kilat di kantor Reuters tak cukup.
Selama hampir dua bulan pertama berada di Aceh tak satupun foto Tarmizy bisa
diterbitkan Reuters. Ia berada di Aceh pada akhir April 2002 dan mulai 1 Mei
Reuters resmi mengontraknya.
Di Jakarta, Enny kerap mengeluhkan hasil jepretan Tarmizy. Mereka sering adu
mulut. Yang paling sering masalah angle foto. Tarmizy nyaris patah arang.
Namun beberapa seniornya, seperti Edward Sinaga dan Arbain Rambey,
memberikan semangat lewat telepon. Pelan-pelan, Enny juga terus memandunya.
Mereka ibarat dosen jarak jauh.
³Dia mau belajar walau selalu saya kritik terus-menerus. Tidak cepat sakit
hati kalau saya gembleng. Lama-lama keindahan imajinasi dia mulai keluar
untuk mencipta karya yang bagus,² ujar Enny. Ia bahkan kerap meminta Tarmizy
memotret ulang jika foto itu tidak sesuai standar Reuters.
Hasil jepretan Tarmizy mulai banyak diterbitkan saat meliput kontak senjata
antara tentara Indonesia dan pasukan Gerakan Aceh Merdeka atau GAM di daerah
Lhoknga, Aceh Besar. Lalu foto-foto patroli tentara Indonesia ke
kampung-kampung. Foto-foto itu banyak dimuat media-media nasional dan
internasional yang berlangganan Reuters.
Tarmizy makin dekat dengan daerah pertempuran.
Pada November 2002, di bawah komando Brigadir Jenderal Bambang Dharmono,
tentara Indonesia mengepung 50-an anggota pasukan GAM di desa Paya Cot
Trieng, Aceh Utara. Beberapa wartawan dibolehkan meliput ke lokasi
pengepungan setelah mendapat izin petinggi militer Indonesia di sana.
Malam itu Tarmizy masih berada Medan. Begitu mendengar berita besar itu,
esok paginya ia buru-buru naik angkutan minibus L-300 menuju Aceh Utara.
Tapi ia terlambat dua jam. Rombongan rekan-rekannya sudah masuk lebih dulu.
Dalam angkutan, lewat sambungan telepon seluler, ia menghubungi seorang
teman wartawan. Ia disarankan agar tidak nekad masuk ke lokasi tanpa ada
orang wartawan lain. Jaminan keamanan nihil.
³Riskan sekali! Jangan sendirian masuk,² ujar sang teman.
Tarmizy mengabaikan saran itu. Ia ngotot naik ojek masuk lokasi. Mereka
melewati pos pemeriksaan yang tak jauh dari kedai kopi.
³Bang, Abang tunggu di sini. Aman nggak?² katanya kepada tukang ojek.
³Kalau saya aman, Abang juga aman,² balas tukang ojek.
Sebelum masuk ke lokasi, ia menitipkan barang-barang yang menurutnya tak
akan dibutuhkan selama meliput ke pemilik kedai. Ia percaya tas berisi
pakaian itu akan aman-aman saja. Barang yang dibawa hanya sebuah kamera saku
digital yang baru ia beli, telepon genggam dan laptop.
Di pos, tentara menggeledah isi tas yang dibawa Tarmizy. Seorang petugas
memeriksa isi dan daftar nomor dan deretan nama dalam telepon genggamnya.
Petugas pos menanyakan nama-nama itu satu persatu. Ini makin memperpanjang
keterlambatannya menuju lokasi pengepungan. Kehilangan momen adalah musuh
bagi para fotografer. Ia dituntut menjadi saksi mata di lapangan saat suatu
peristiwa penting berlangsung.
Tarmizy cari akal buat mengalihkan perhatian petugas. Ia menjatuhkan tas
laptop. Menyenggol sepatu lars petugas. Sibuk membereskan isi tas. Petugas
akhirnya mengembalikan telepon genggam Tarmizy. Mereka mengizinkan Tarmizy
masuk setelah melaporkan ke komandannya yang berada dalam lokasi pengepungan
lewat radio. Di sana sudah ada Bambang Dharmono, panglima komando operasi.
Orangnya tegas. Tubuhnya tegap dan tinggi. Disiplin, dan dikenal dingin
terhadap wartawan.
Pengepungan berlangsung selama 40 hari. Tarmizy mengambil gambar aksi
tentara Indonesia. Foto-foto itu segera dikirim ke kantor Reuters di
Jakarta. Media-media cetak nasional menerbitkan foto-fotonya. Harian Kompas
edisi 20 November, misalnya, memuat foto lima tentara berpakaian lengkap dan
senapan berjajar siaga. Foto itu dimuat di halaman satu. Hari berikutnya,
harian itu juga memuat foto Tarmizy yang menggambarkan seorang kakek tengah
menuntun sepeda yang mengangkut anyaman atap rumbia. Warga desa Paya Cot
Trieng tersebut melintas di sebelah panser baja. Di hari akhir pengepungan,
Tarmizy memotret sekitar 1000-an tentara Indonesia berseragam hijau loreng
berkumpul dan menyanyikan lagu-lagu patriotik buat membakar semangat. Foto
itu dimuat harian berbahasa Inggris The Jakarta Post pada 11 Desember 2002.
PESISIR pantai timur Aceh adalah salah satu titik panas bagi wartawan.
Daerah ini membentang dari Banda Aceh hingga Aceh Timur. Selepas
pemerintahan Megawati Sukarno menetapkan Darurat Militer di Aceh, tentara
berseragam bersenjata lengkap dan kendaraan lapis baja keluar-masuk
kampung-kampung. Operasi militer dan kontak senjata berulangkali pecah di
sekitar pesisir ini.
Pertengahan Juni 2003, beberapa wartawan lokal dan nasional menginap di
Hotel Vinavera dan Wisma Kuta Karang, Lhokseumawe. Sebelum berangkat
meliput, sambil menyeruput kopi dan sarapan, diadakan rapat tak resmi di
warung kopi. Ersa Siregar, wartawan stasiun televisi RCTI yang belakangan
tewas tertembak, kerap memandu pertemuan pagi.
Saat itu tersiar kabar William Nessen tengah bersama pasukan GAM di daerah
Nisam, Aceh Utara. Billy, panggilan akrabnya, adalah wartawan lepas asal
Amerika Serikat. Ia memotret panglima GAM Muzzakir Manaf, mewawancarai
Sofyan Dawood, atau ikut dalam gerilya pasukan GAM. Ia wartawan yang paling
berhasil menembus ke sarang GAM. Tapi kedekatannya dengan GAM malah
mengundang curiga militer Indonesia. Billy dianggap membantu perjuangan
pasukan GAM. Militer Indonesia memerintahkan Billy keluar dari sarang GAM
dan menyerahkan diri. Bukan cuma itu, ia juga diwajibkan angkat kaki dari
Aceh. Militer Indonesia mengerahkan pasukan ke Nisam. Konsentrasi untuk
persiapan dan penjagaan selama penyerahan.
³Ayo, kita lihat ke sana,² usul Ersa. Wartawan ini tak hanya dihormati
karena lebih senior. Insting dan pengalaman kewartawanannya sering menjadi
pelajaran bagi wartawan muda. Aksi penyerahan wartawan asing dan konsentrasi
tentara Indonesia di Nisam adalah berita cukup penting untuk media
internasional.
³Oke, boleh,² sambut Tarmizy, sepakat.
Konvoi kendaraan minibus yang ditumpangi para wartawan segera meninggalkan
kedai kopi. Laju kendaraan minibus yang disewa Tarmizy tak mampu menembus
angka 60 kilometer perjam. Selain sopir,di dalam mobil itu ada dua wartawan
lokal yang bersama Tarmizy. Mobil kerap keteter dari rombongan, sampai
akhirnya mereka betul-betul jauh tertinggal.
Saat mencapai daerah Nisam, hampir di tiap persimpangan Tarmizy terpaksa
turun dan bertanya kemana konvoi kendaraan wartawan berbelok. Di sebuah
persimpangan, Tarmizy turun dan menemui orang-orang tua yang berada dalam
kedai kopi. Di Aceh, hampir di tiap kampung bisa ditemui kedai kopi. Tempat
ini jadi ruang berkumpul dan bertukar cerita. Tapi, konflik membuat para
kaum muda kampung menyingkir, cari selamat, ketimbang jadi sasaran tentara.
Warga yang tersisa hanya kakek-kakek dan nenek-nenek.
Tarmizy bertanya kepada seorang bapak. Kulitnya putih, badannya kurus. Ia
mengenakan kaos oblong putih dan peci khas Aceh. Usianya di atas 60-an dan
lancar berbahasa Indonesia. Sebaliknya, meski orangtuanya berasal dari
Indrapuri dan Montasik, Aceh Besar, Tarmizy tak lancar berbahasa Aceh.
³Pak, lihat rombongan mobil yang lewat sini? Tadi arahnya ke mana?²
Orang tua itu ragu menjawab. Di pelosok Aceh, orang lokal yang berbahasa
Indonesia kerap dicurigai sebagai antek militer Indonesia. Salah omong, di
masa konflik, bisa berakibat mematikan. Cuak atau mata-mata ada di
mana-mana.
³Saya sedang mengikuti mobil rombongan wartawan.²
³Oh, itu wartawan? Mereka ke kanan. Apa itu wartawan semua?²
³Iya.²
Tiba-tiba, orangtua itu berbicara setengah berbisik.
³Bisa nggak tolong belok ke kiri dulu? Tolonglahв
³Ada apa, Pak?²
³Penting kali, tolonglah ke sana dulu, Nak!²
Suaranya nyaris tidak terdengar. Mulutnya hampir tidak terbuka. Dua wartawan
dan sopir masih berada dalam mobil.
³Ada apa, Pak?² Tarmizy bertanya lagi.
³Ada orang meninggal di pohon,² ujarnya sembari celingak-celinguk.
³Ohв Tarmizy agak ragu. ³Tapi Pak, saya ini masih ada tugas lain di depan
sana. Nanti kalau sudah selesai, saya balik lagi.²
Orangtua itu terus memaksa, seperti ada yang sangat penting.
³Pak, kalau di depan sana ada apa-apa, pertama saya ini sendiri. Ini
menyangkut keamanan saya. Kalau saya ke sana dapat berita tapi saya nggak
aman, untuk apa, Pak? Saya ke depan dulu, nanti saya ajak kawan-kawan ke
sana.²
³Betul ya, Nak? Saya minta tolong sekali.²
³Iya, Pak. Saya janji.²
RISIKO hilang nyawa para wartawan di wilayah konflik tak pernah bisa
dihargai dengan apapun. Ancaman bom hingga penculikan selalu menghantui
kerja mereka. International Federation of Journalist mencatat, sebanyak 46
wartawan tewas sepanjang tahun 2002. Kasus pembunuhan Daniel Pearl, reporter
The Wall Street Journal, pada 21 Februari 2002 adalah yang paling
menggemparkan. Wartawan Amerika ini diculik dan dibunuh secara brutal ketika
sedang melakukan investigasi jaringan teroris internasional Al Qaeda di
Pakistan. Lalu ada Beata Pawlak wartawan asal Polandia yang ditugaskan
harian Gazeta Wyborcza untuk menggali jaringan teroris di Indonesia. Ia
adalah salah satu dari 190-an korban yang tewas dalam peristiwa ledakan bom
Bali pada bulan Oktober 2002. Daftar ini seperti alarm peringatan bagi
wartawan agar bekerja lebih hati-hati.
Begitu pula Tarmizy. Ia tak mau ambil risiko berbahaya dengan mendatangi
lokasi ³orang meninggal di pohon². Ia mesti mengajak beberapa rekannya untuk
mengecek kebenaran informasi yang disampaikan orangtua di muka kedai kopi.
Setelah bertemu dengan rombongan kendaraan wartawan, ia mengabarkan ke
seorang rekannya. Tapi responnya negatif. Kabar itu ditanggapi sebagai isu
belaka. Tarmizy segera melontarkan laporan orangtua itu kepada Ersa Siregar.
³Di mana?² tanya Ersa.
Tarmizy buru-buru membeberkan kabar dan lokasi ³orang meninggal di pohon².
Ersa setuju. Tapi ia tak punya banyak waktu. Ersa mesti siaran sore hari. Ia
juga mesti minta persetujuan wartawan yang lain.
³Kalau kawan-kawan nggak mau, gimana?²
³Kalau ada satu orang yang ikut, saya akan ke situ. Bang Ersa mau?²
³Oke. Mobil kamu di depan.²
Siang itu konvoi mobil segera menuju ke persimpangan dan mendatangi orangtua
yang sebelumnya ditemui Tarmizy. Mobil yang ditumpangi Tarmizy tiba lebih
dulu. Lalu mobil Ersa dan mobil lainnya. Ada sekitar tujuh kendaraan dengan
total wartawan lebih dari 20 orang.
³Di mana lokasinya, Pak? Berapa jauh?² tanya Tarmizy.
³Terus lurus, sebelum jembatan. Nggak sampai lima kilo.²
Tarmizy segera berdiskusi dengan Bang Ersa.
³Berapa lama, Ji?²
³Nggak sampai limabelas menit katanya, Bang.²
³Oke bisa. Kalau kawan-kawan nggak bisa ikut, kita berdua,² balas Ersa.
Ternyata perkiraan orangtua itu meleset. Lokasi itu jauh lebih dekat. Tempat
ini berada di wilayah Dusun Batee Leusung, Desa Seumirah, Nisam. Sepi. Tak
ada rumah. Kanan-kiri jalan ditumbuhi pohon pinang dan belukar setinggi
paha. Tarmizy dan Ersa turun dari mobil, dan jalan pelan-pelan. Mereka
bertemu seorang bapak dan anak perempuannya. Abdullah Adam dan Farida.
Belakangan diketahui, keduanya adalah keluarga dari orang yang tewas di
pohon.
³Di mana, kak?²
³Arah ke sana,² jawab Farida sambil menunjuk sebuah titik di kawasan kebun
pinang yang lama tidak terawat karena konflik.
Tarmizy mendekati lokasi. Ersa di belakangnya. Teman-teman menunggu di mobil
yang parkir di pinggir jalan. Tiba-tiba langkah Tarmizy terhenti. Sekira
sepuluh meter di depan tempatnya berdiri, ia melihat sosok lelaki nyaris
telanjang berkulit kecoklatan. Lelaki itu hanya mengenakan celana dan
terikat di pohon pinang. Lehernya yang terikat belitan kain kusam, nyaris
putus menahan berat tubuhnya yang melorot jatuh ke tanah. Kedua tangannya
terikat ke belakang. Darah kental bercucuran dari wajah, dada, perut hingga
ke kaki. Mulut tersumpal alang-alang.
³Itu, Bang.² Tarmizy tak melanjutkan langkahnya. Lemas.
³Mana?²
³Itu, Bang. Di depan.²
³Mana?²
³Itu di depan saya.²
Ersa mendekat, tapi masih belum melihat. Pandangannya tertutup alang-alang.
³Yang mana?²
³Itu, Bang di depan saya!² Tarmizy menunjuk mayat lelaki itu.
Wartawan yang berada dalam mobil kontan turun. Berhamburan mengelilingi
tubuh korban. Ambil gambar. Jeprat-jepret!
Tarmizy masih shock. Ia baru sadar setelah wartawan lainnya mengambil
gambar.
Setelah kelar ambil gambar, beberapa wartawan segera menghampiri dan
mewawancarai Abdullah Adam dan Farida. Ersa Siregar, Aboeprijadi Santoso
dari Radio Netherland, Zainal Bakri dari Tempo, Citra Dyah Prastuti dari
Kantor Berita Radio 68H dan wartawan lain. Mayat lelaki itu bernama Muzakkir
Abdullah. Usianya sekitar 20-an tahun. Farida bercerita soal peristiwa
penculikan adiknya oleh tentara pada malam sebelumnya.
Tarmizy masih sibuk memotret. Ia mengambil gambar dari beberapa sudut.
Depan. Belakang. Samping. Ia berharap bisa mendapat gambar yang bisa
disajikan dengan santun. Beberapa kerabat dan tetangga korban berdatangan.
Membawa tikar pandan dan kain. Farida dan perempuan lainnya bertangisan.
Tarmizy memotret Farida yang sesunggukan membersihkan darah di wajah mayat
adiknya. Tarmizy memotret mayat dari arah belakang. Seorang perempuan
kerabat Farida, mengenakan sarung dan menggendong bocah balita,
memperhatikan Farida dengan wajah sedih.
Sebelumnya Ersa juga mengingatkan agar kawan-kawannya mengambil dari
belakang. Agar tidak vulgar. Tapi ada juga wartawan yang memfoto dari depan.
Akhirnya Tarmizy pun ikut ambil dari depan. Ia membayangkan betapa brutal
penyiksaan dialami pemuda korban ini. Ketika tengah mengambil gambar,
terlintas di benaknya mengapa mayat ini tidak segera dilepas dari ikatannya.
Ia kesal. Lantas bertanya kepada ayah korban. Tapi, orangtua korban
beralasan dengan mengutip perintah yang pernah didengar dari tentara
Indonesia agar tidak mendekati sesuatu yang aneh. Tarmizy kontan mendesak
agar ayah korban segera menghubungi kepala kampung dan semua laki-laki di
kampung. Meminta agar jenazah segera diurus dan dimakamkan.
³Ini mumpung masih ada kami! Kalau nggak ada lagi kami di sini, kalian nggak
berani lagi.² Tarmizy tak bisa menahan emosi. Dia memperkirakan, Muzakkir
tewas sekitar 12 jam lalu.
Tarmizy mengambil gambar pelepasan ikatan jenazah. Ia berharap juga bisa
mendokumentasikan momen pemandian hingga pemakaman Muzakkir. Tapi Ersa yang
mengejar waktu tayang berita segera meninggalkan lokasi. Beberapa wartawan
lain ikut menyusul. Mobil yang ditumpangi Tarmizy lagi-lagi berada paling
belakang. Foto-foto dikirim menjelang magrib lewat sebuah wartel di
Lhokseumawe. Listrik putus, warung-warung internet tak memiliki generator
listrik.
Selama beberapa bulan hilir mudik melewati pesisir timur, dari Medan ke
Banda Aceh atau sebaliknya, Tarmizy kerap teringat foto jenazah Muzakkir
Abdullah. Tapi saban mobil yang ditumpanginya melewati kebun-kebun pinang,
ia selalu mengalihkan pandangan.
JAKARTA, pertengahan Januari 2004. Enny berdiskusi dengan Darren Whiteside,
staf fotografer, di kantor Reuters. Enny berniat mengikutsertakan isu
konflik di Aceh dalam World Press Photo. Pertimbangannya, sebagian isu Aceh
menjadi headline koran-koran dunia. Tahun 2003, bisa dibilang tahun perang.
Dari invasi Amerika ke Irak hingga Aceh menghiasi laporan media massa.
Foto-foto dari Reuters tentang konflik Aceh yang banyak dimuat media-media
itu adalah foto jepretan Tarmizy.
Enny dan Darren berunding dan memilih foto-foto terbaik Tarmizy. Mereka
sampai pada kesimpulan untuk menyertakan foto pembantaian Muzakkir Abdullah
di Nisam. Enny segera menelepon Tarmizy. Ia minta file asli foto-foto itu.
³Untuk apa?² sore itu Tarmizy berada di Medan. Ingatannya terkenang pada
pembantaian Muzakkir Abdullah di Nisam.
³Untuk diikutkan dalam lomba World Press Photo,² ujar Enny.
Malamnya, untuk kedua kalinya setelah pengiriman foto pertama, Tarmizy
melihat foto-foto kasus Nisam yang tersimpan di laptopnya. Ia segera memilih
dan mengirimkan tiga-empat foto ke alamat email Enny. File foto-foto itu
berukuran cukup besar. Internet lambat. Menjelang subuh foto-foto baru
selesai dikirim.
Ini ajang bergengsi paling besar untuk kontes fotojurnalistik. Pemerintah
Belanda amat mendukung kegiatan ini sekaligus mempromosikan wisata Belanda.
Kontes ini diadakan setiap tahun sejak 1955 untuk memilih foto-foto terbaik
dari seluruh dunia. Pengumuman hasil kontes disiarkan pada bulan-bulan awal
setiap tahun.
Wartawan Indonesia yang pernah menjadi dewan penasehat dalam kontes
internasional ini adalah Mochtar Lubis. Wartawan harian Indonesia Raya ini
juga menjadi anggota dewan juri pada tahun 1980. Beberapa wartawan Indonesia
pernah mendapat penghargaan bergengsi ini. Piet Warbung, wartawan Associated
Press yang dapat penghargaan sekitar tahun 1967an. Lalu Kartono Ryadi,
wartawan Kompas yang dua kali mendapat penghargaan pada 1974 dan 1980.
Zaenal Effendi, wartawan harian Angkatan Bersenjata yang kemudian bergabung
di Kelompok Kompas Gramedia, meraih penghargaan tahun 1977. Donny Metri
Darwin, wartawan mingguan Tempo tahun 1993. Terakhir wartawan Jawa Pos,
Sholihuddin menjadi juara pertama untuk kategori Spot News Singles Photo
tahun 1995.
Meski sudah ada panduan penilaian, setiap tahun kriteria Photo of The Year
selalu berganti. Ini terutama bergantung pada penilaian anggota dewan juri.
Tahun 2003, Elisabeth Biondi, ketua dewan juri yang juga redaktur visual
majalah The New Yorker punya penilaian tinggi terhadap foto yang berhasil
menarik perhatian dari keadaan tertentu dan menyentuh lewat simbol visual
yang memaparkan fakta.
Tahun 2003 memang tahun perang, tapi fotojurnalistik itu tidak mesti
menampilkan situasi kontak senjata langsung. Kekejaman perang bisa
ditampilkan dalam aneka warna dan bentuk. Barangkali ini sejalan dengan
pemikiran fotografer yang langganan dapat penghargaan bergengsi Pulitzer,
Peter Turnley, yang dimuat dalam jurnal Nieman Reports tahun 2001. Di edisi
khusus Coverage Terrorism, Turnley menulis pengalamannya meliput selama
sepuluh hari pasca tragedi runtuhnya gedung World Trade Center, 11 September
2001. ³Terutama dalam situasi perang,² kata Turnley, ³gambar-gambar penting
bukan yang ada di tengah tembak-tembakan; gambar-gambar itu ada setelah
pertempuran tatkala seseorang menyaksikan dampaknya terhadap manusia.²
Jumat petang, 13 Februari 2004, telepon genggam Tarmizy berbunyi. Ia tengah
berada di kendaraan.
³Selamat ya. Kamu menang World Press Photo,² ujar Enny lewat telepon. Ia
ikut bangga, fotografer yang dibimbingnya meraih penghargaan internasional.
Tarmizy adalah fotografer Reuters di Indonesia yang pertama mendapat
penghargaan ini.
³Ah, yang benar?² Tarmizy tak percaya.
³Iya, benar!²
Tarmizy masih sangsi. Begitu tiba di rumah, ia membuka situs World Press
Photo. Di situ ia melihat foto Jean Marc Boujou, fotografer Associated
Press, yang terpilih menjadi World Press Photo of The Year 2003. Foto Boujou
menggambarkan seorang lelaki Irak yang menjadi tawanan tentara Amerika
tengah memeluk anaknya. Kepala lelaki itu tertutup kantong hitam. Tarmizy
berhasil menemukan namanya terpampang. Fotonya mendapat penghargaan
Honorable Mention kategori Spot News Single. Namun ingatannya kembali
terkenang Farida dan keluarga korban.
³SAYA berpikir, andai penghargaan itu berbentuk uang tunai, saya akan
membagi hadiah itu kepada mereka. Tapi ternyata tidak ada, ini bukan grand
prize,² ujar Tarmizy kepada saya.
Malam itu, di muka Kantor Biro Antara Banda Aceh, saya bersama-sama wartawan
lainnya baru selesai membuka-buka halaman buku Inferno karya James Nachtwey
milik Tarmizy. Saya juga melihat foto-foto jepretan Tarmizy pasca bencana
tsunami.
Hotli Simanjuntak menilai, Tarmizy termasuk fotografer hebat.
³Apalagi foto dari Aceh bisa dapat nominasi WPP. Aceh memang pantas karena
isu-isu Aceh jadi isu internasional. Dari foto Meji (Tarmizy) itu, dunia
jadi tahu ada pelanggaran HAM di Aceh. Sebelumnya, yang dikenal dari
Indonesia kan cuma Bali,² kata Hotli.
³Dia nggak pernah jaga jarak dengan fotografer-fotograf er muda. Bahkan
setelah dia memenangkan sebuah penghargaan foto jurnalistik tingkat dunia
sekalipun,² ujar Binsar Bakkara, fotografer Associated Press.
Penghargaan itu membawa Tarmizy terbang ke Belanda mengikuti pameran World
Press Photo. Acara itu digelar selama sepekan. Ia bertemu Jean Marc Boujou
dan fotografer internasional lainnya. Walau menang, Boujou rendah hati dan
memberi apresiasi tinggi terhadap fotografer yang bertugas di wilayah
konflik. Tarmizy ikut kagum. Ia jadi makin yakin dengan jalan yang
dipilihnya sebagai fotografer. Ia juga berniat untuk membantu keluarga
almarhum Muzakkir Abdullah.
³Sampai sekarang, niat itu masih saya simpan. Mungkin kalau ada rezeki lain.
Apalagi sampai sekarang saya juga belum pernah bertemu keluarga korban
lagi.² ***
*) Samiaji Bintang adalah kontributor Pantau Aceh Feature Service di Banda
Aceh
Berita Lainnya :
- Jurnalis Aceh Sediakan Hotspot Gratis
- “Black Road” on Bang Lah Cantinos
- KAMERA DIGITAL, Pocket Masih Menguasai Pasar
- Tips di dalam Fotografi
- Gubernur Irwandi Minta NAD Diubah Jadi Aceh
Comments
Comment from van
Time: April 27, 2008 - 2: 56 am, 2:56 am
menarik sekali ceritanya….jadi pengen belajar foto ama beliau…














Write a comment