Mistik dalam Tehnologi
Monday, 19/05/2008 - 09:32 WIBRoni Muchtar - Opini
Di bulan Mei, 2008 ini, masyarakat Indonesia sedang mengalami keguncangan. Selain dihantui oleh ancaman kenaikan BBM, masyarakat terutama penduduk jatim, juga di terror oleh adanya SMS santet ataupun oleh telpon setan. Berita mengenai hal-hal yang berbau mistik ini sedang ramai menjadi bahan obrolan dan perbincangan. Bahkan, konon sms santet dan telpon setan ini sudah makan korban hingga dilarikan ke rumah sakit setempat.
Santet (masyarakat Indonesia lainnya mengenal sebagai tenun atau teluh), setan, demit dan makhluk-makhluk kasat mata lainnya, dianggap sebagai budaya masyarakat Indonesia jaman dulu. Seiring dengan perkembangan tehnologi, budaya-budaya berbau mistisme ini malah dijadikan sebagai bahan “ejekan” dan tertawaan oleh masyarakat yang mengaku dirinya sudah “modern”. Bukan hanya di Indonesia, di belahan dunia yang lain pun, tehnologi sudah mengikis habis budaya mistisme. Masyarakat Eropa pada abad pertengahan percaya bahwa Bumi ini datar dan mempunyai tiang-tiang sebagai penyangga langit. Bahkan dalam budaya masyarakat Yunani kuno, Bumi dipercayai dipanggul oleh seorang Titan, agar tidak terayun-ayun di alam semesta. Dengan adanya penemuan-penemuan tehnologi tinggi, berhasil dibuktikan bahwa semua itu adalah bohong belaka. Tahayul, kata mereka.
Indonesia juga mengalami hal yang sama. Dengan adanya tehnologi tingkat tinggi, masyarakat sudah tidak perduli lagi akan adanya mistisme-mistisme atau mitos-mitos yang berkembang sebelumnya. Contohnya, Ancol yang dulunya dipercaya sangat angker, sekarang sudah sangat ramai penduduknya. Dulunya, penduduk setempat tidak berani untuk memasuki kawasan Ancol ini. Dulu, masyarakat tidak berani untuk menebang pohon yang berukuran besar-besar, karena dianggap ada penghuninya dan penebangnya akan mengalami nasib sial. Sekarang, dengan kecanggihan tehnologi, jangankan satu pohon, hutan rimba belantara pun disikat habis oleh manusia. Maka, tak pelak lagi, tahayul, mistik berhasil dikikis habis dan mulai tinggalkan oleh masyarakat Indonesia.
Benarkah demikian….?
Tidak juga. Walaupun masyarakat Indonesia, sebagian besar mengaku sudah modern, namun ternyata benih-benih mistik masih berkembang dalam kehidupan modern ini. Masyarakat Indonesia tiap pergantian tahun, masih menunggu ramalan-ramalan dari mami Lauren untuk peruntungan tahun mendatang. Bahkan, mami ini membuka layanan via sms untuk peruntungan-peruntungan bagi pengirim sms. Selain itu, Ki joko bodo juga membuka layanan sms yang sama untuk membaca weton-weton pengirimnya. Sekedar untuk diketahui, layanan-layanan sms ini yang biayanya mahal, dibuka oleh operatornya karena memang laris. Di gunung Kawi, jumlah pengunjung tiap harinya sangat padat. Gunung ini dipercaya bisa memberikan berbagai peruntungan atau membuang sial atau memberikan berkah diberbagai bidang bagi yang mencari peruntungan di gunung ini. Ditempat-tempat yang dianggap sama pun juga banyak dikunjungi oleh masyarakat. Konon pengunjungnya terdiri dari berbagai macam lapisan masyarakat seperti selebritis, pejabat, pengusaha atau juga masyarakat “biasa” lainnya.
Ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih menanam kepercayaan-kepercayaan yang mereka anggap sebagai tahayul.
Mistik dalam dunia modern ini juga masih menjadi fenomena bagi penduduk dunia. Bahkan di dunia yang dianggap modern sekalipun. Masyarakat-masyarakat dunia masih ramai memperbincangkan ramalan dari peramal abad lampau, Nostradamus. Sebagian besar mereka percaya akan keakurasian dari ramalan Nostradamus ini. Contoh lainnya adalah Glen Hoddle. Bekas pelatih timnas sepakbola Inggris ini, ditengarai melakukan konsultasi yang bersifat “tahayul” sebelum menyusun timnya.
Nampaknya, masyarakat dunia yang menganggap dirinya modern tidak mau berterus terang atas mistisme yang mereka lakukan. Sekedar ilustrasi, dalam film “The Exorcism of Emily Rose” sang pemeran utama, Erin Bruner mengatakan bahwa “Dalam satu milliard penduduk dunia, separohnya masih percaya akan tahayul”. Separohnya, ini artinya 500 juta orang. Angka yang tidak kecil. Lalu, benarkah adanya mistik itu dalam dunia ini…….?
Menanggapi masalah yang “abu-abu” ini, ada baiknya kita juga bersikap sama seperti Erin Bruner dalam film tersebut……..
“Is not about facts, it’s about possibilities……………..”(TH)
Berita Lainnya :
- Gibson Luncurkan Gitar dengan Tehnologi Robot
- Bulan Sabit Merah Turki Adakan Pelatihan Komputer Gratis!
- IMOCA: Penyedia Konten Harus Lebih Kreatif
- Esai Foto (bag. 1)
- Razia Rutin













Write a comment