‘KENAL BANGSA SENDIRI MENERUSI SINEMA”
Wednesday, 20/08/2008 - 13:54 WIBRoni Muchtar - Aceh Hari Ini, Event
Setelah sukses menyelenggarakan Festival Film Eropa pada Desember 2007, Episentrum Ulee Kareng -sebuah ruang pertunjukan kesenian swasta pertama di Aceh- yang beralamat di jalan Lamreung 20 Ulee Kareng Banda Aceh kembali mengelar pemutaran film antar bangsa. Kali ini mengangkat tema perkembangan drama televisi dan film di semenanjung Malaya yang diwakili oleh karya-karya Mansor Puteh, seorang pekerja film Malaysia yang sudah berkarir lama serta sering berpartisipasi di beberapa festival film dunia. Pemutaran drama televisi (tele-sinema) ini akan berlangsung selama tiga hari sejak 22 sampai 24 Agustus 2008 mulai pukul 16.00-22.00 wib. Adapun lima drama televisi yang akan diputar adalah Basikalku, Kadir dan Kim, Anak Ketujuh, Cabaran dan Johan.
Tema diatas muncul lebih karena situasi perkembangan budaya melayu kontemporer yang sangat sedikit menaruh perhatian pada perkembangan teknologi kebudayaan mutakhir seperti film atau media audio-visual lainnya. Padahal kita tahu sebuah bangsa modern tanpa film layaknya satu keluarga modern tanpa album foto. Keluarga tanpa potret aktifitas para ahli familinya sama seperti bangsa yang mudah melupa. Tak ada rekaman realitas sosial yang sungguh mampu menunjukkan dinamika kebudayaan yang sudah dan sedang berlaku di ranah melayu diantara globalisma dunia kini.
Pengkajian-pengkajian yang sejauh ini masih berkutat pada jelajah teks-teks klasik yang cenderung terjebak rutinitas tanpa aksi mesti disandingkan dengan presentasi-presentasi karya sinematik yang menderetkan kode-kode kebudayaan melayu mutakhir di sebalik pancaran cahaya di layar putih. Pun generasi perfilman melayu sudah banyak tumbuh dan siap memberi arti bagi dunia melayu, khasnya sinema islam.
Mansor Puteh lahir di Melaka, Malaysia. Mendapat pendidikan di Sekolah St Francis, kemudian di Malaysian Tutorial College di Petaling Jaya, dan di Institut Teknologo Mara (ITM) Shah Alam Malaysia. Bekerja sebagai wartawan Utusan Melayu selama setahun. Kemudian meneruskan studi film di Columbia Univerity New York pada 1978, seangkatan sebagai mahasiswa dengan calon presiden Amerika, Barack Obama dan Kuntowijoyo, sejarawan dari Yogyakarta
Mansor telah mengunjugi 33 negara untuk mengikuti festival, seminar dan forum-forum tentang film. Dan sempat pula menghasilkan 60 judul buku yang kebanyakannya novel tentang pengalaman orang Melayu dan Islam. Ini kali pertama Mansor datang ke ke Banda Aceh sekaligus mengisi sebuah diskusi dengan ulasan yang belum dibincangkan oleh sesiapa pada 23 Agustus 2008 pukul 16.00-18.00 wib di episentrum ulee kareng; Sinema Nusantara dan Sinema Islam untuk menyatukan Bangsa Melayu dan Umat Islam.
Kembara Sinema Malaysia ini sepenuhnya didukung oleh Aceh Movie Maker (AMM) dan United Nothing for Dokarim Commission (UN-DOC)
Sinopsis drama televisi;
Basikal ku
mengisahkan bagaimana Sani yang gemar bersepeda sehingga hampir menganggu pelajarannya di universitas. Dia dapat tentangan dari emak dan bapak dan dinasihati dosennya. Tapi pacarnya mendukung asal dia tidak mengabaikan pelajaran. Akhirnya dia tamat juga dari universitas dan mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan besar. Dan dia masih bersepeda ke kantor. Skenario ditulis oleh Mansor dengan sutradara Adman Salleh dan disiarkan oleh TV3 Malaysia.
Kadir dan Kim
kisah tentang masyarakat Baba dan Nyonya di Melaka. Masyarakat ini agak berbeda di Malaysia tetapi tidak kalau di Indonesia. Mereka keturunan Cina tetapi mempunyai perangai Melayu dan bertutur dalam Bahasa Melayu. Kadir bekerja sebagai pembantu di ladang bapak Catherine yang sedang cuti belajar di London. Karena Catherine peramah dan Kadir pula disuruh jadi sopir untuk membawa Catherine kesana-kemari, maka Kadir jatuh hati dengannya lalu Kadir memanggilnya ‘Kim’. Skenario ditulis oleh Mansor dengan sutradara Roslan Aziz dan disiarkan oleh TV3 Malaysia.
Cabaran
Berkisah mengenai sebuah keluarga muda. Mereka terpaksa pindah ke sebuah rumah kecil ketika sang suami diberhentikan kerja. Dia cuba untuk mencari pekerjaan baru untuk menyangga penghidupan keluarganya. Dia marah saat tahu isterinya bekerja diam-diam. Skenario oleh Mansor dengan sutradara Aziz Satar.
Johan
Mengisahkan tentang seorang anak sekolah yang cedera dan melumpuhkan ketika dia terjatuh saat mengayuh sepeda. Mujur tidak mematahkan semangat juangnya untuk maju sehingga dia berjaya masuk ke tingkatan atas. Scenario dan sutradara oleh Mansor.
Anak Ketujuh
Mengisahkan bagaimana Man yang bekerja sebagai nelayan tiba-tiba mengabaikan keluarganya dan menghabiskan waktu dengan rakan-rakan berjudi hingga lewat malam. Ia memaksa isterinya, seorang petani, bekerja seorang diri walaupun tengah mengandung untuk kali ketujuh. Dia telah keguguran anak dua kali dan kali ini keadaannya menjadi buruk. isterinya pingsan dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Ia keguguran lagi. Akhirnya suaminya berubah sikap dan mereka memulai perniagaan dengan membuka kedai kue untuk menyangga hidup keluarga. Skrip dan arahan oleh Mansor.
Berita Lainnya :
- Tri Utami dan Andy Achmad Garap Album Melayu
- Festival Sinema Perancis 2008 Segera Dimulai
- FIB UI Gelar Pekan Sastra Aceh
- Melly Buatkan Lagu “Soundtrack” Film Cicak-man 2
- Naga Bonar Kembali Dirilis













Write a comment