Opini, Review, Teknologi
Operator “Cengeng”
Wednesday, 10/09/2008 - 10:07 WIB - Oleh: [H!]Magazine
Berbicara teknologi telekomunikasi dan turunan layanannya di Indonesia, tidak habis-habis. Persaingan semakin ketat, pembatasan pendirian menara seluler, dan perang tarif antar operator menjadi perbincangan di mana-mana. PT Telkom sebagai penyelenggara telekomunikasi terbesar di negara ini akhirnya malu-malu mengubah skema bisnis yang dijalankannya, terutama terkait dengan jaringan telepon kabel tetap PSTN (public switched telephone network). Pengguna telepon rumah sekarang cukup membayar enam menit dari total pembicaraan 30 menit.
Ini menunjukkan bahwa jaringan PSTN sudah tidak pernah disentuh lagi oleh konsumennya, dan tidak dikembangkan secara serius oleh PT Telkom, akhirnya kewalahan juga bersaing dalam perang tarif yang tidak menunjukkan titik akhir.
Ironisnya, semua tawaran gratis teleponi yang ditawarkan semua operator berlaku mulai pukul 22.00 sampai pukul 06.00, sebuah pilihan waktu yang mencerminkan ketakutan operator akan kalah bersaing kalau tidak mampu menawarkan telepon gratis malam hari.
Dari tawaran PT Telkom ini terlihat betapa ”cengeng”-nya layanan yang disebut gratis tersebut. Semua orang tahu, konsumen di Indonesia tidak ada yang berbicara sampai 30 menit, dan bahkan tidak lebih dari 5 menit. Semua orang tahu, malam hari adalah waktu orang istirahat dan telepon dan ponsel tidak digunakan, hanya untuk digunakan karena gratis.
Perilaku ”cengeng” operator juga terjadi di operator seluler, menawarkan layanan pembicaraan gratis malam hari pada saat orang istirahat. Kita sedih melihat bahwa pembangunan dan perkembangan sistem telekomunikasi di negeri ini tidak diarahkan untuk meningkatkan efektivitas bisnis, menjadi agen pembangunan untuk menumbuhkan perekonomian nasional.
Operator ”céngéng” menunjukkan mereka tidak kreatif memanfaatkan konvergensi teknologi komunikasi informasi, di mana komunikasi berbasis suara sebentar lagi akan diisi oleh komunikasi berbasis data. Ketika operator menjadi ”cengeng,” mereka pun menghadapi persoalan keuangan mempertahankan operasional dan mulai menawarkan perusahaannya kepada pihak lain. Sebentar lagi kita melihat berbagai operator berguguran karena tidak memiliki dana, pelanggan setia, serta layanan kreatif untuk menunjang bisnis mereka. (Kompas)







