Teknologi
Industri Software Dipandang Sebelah Mata
Thursday, 02/07/2009 - 09:33 WIB - Oleh: Roni Muchtar
Para pengembang software lokal merasa dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Hal ini terlihat dari salah satu lelang terbuka oleh Dewan TIK Nasional (DeTIKnas), di mana pemerintah masih menganggap kapabilitas pengembang software asing lebih baik daripada milik lokal. Hal itu dikatakan Simon Bone, perwakilan PT Pesona Edukasi, salah satu pengembang software bidang pendidikan, di sela jumpa pers Business Software Alliance (BSA) di Restoran Sate Khas Senayan-Menteng, Jakarta, Rabu 1 Juli 2009. “Kami pernah mengikuti satu tender yang menawarkan tiga paket senilai 15 miliar rupiah. Tetapi, kami hanya diberikan satu paket, yang lainnya asing,” kata Simon. “Padahal, menurut Keppres nomor 2 tahun 2009, Presiden mengatakan industri kreatif lokal sebisa mungkin lebih diprioritaskan. Tapi, kenyataannya berbeda,” ucapnya.
Lebih lanjut, dia mengatakan, untuk ‘go internasional’ ke 34 negara saja, Pesona Edu terpaksa merogoh kocek pribadi tanpa ada sokongan dari pemerintah langsung. “Untuk riset saja kami pakai uang pribadi. Semua kami kembangkan sendiri. Kendati software kami suah masuk kelas premium, pernah menyabet peringkat tiga besar di dunia untuk software matematika dan sains, tetap saja dipandang sebelah mata,” ucap Simon menyayangkan.
Pada kesempatan yang sama, direktur PT Zahir Internasional M Ismail Thalib menyarankan agar pemerintah lebih peka terhadap kebutuhan masyarakat kreatif. “Banyak sekali pemuda-pemudi bangsa yang memiliki ide kreatif dan inovatif. Hambatan mereka adalah modal. Seharusnya, pemerintah mampu memfasilitasi mereka. Saya yakin bila mendapat dukungan pemerintah, industri software lokal akan jauh lebih pesat pertumbuhannya,” ucap Ismail optimistis.
Menurutnya, dengan begitu, pemerintah akan mempercayai kapabilitas pengembang software lokal dan mengakui kualitasnya. “Untuk ke depan, tentu saja kualitas software lokal tak kalah dengan milik asing,” ucapnya.
Sementara itu, Direktur PT Intelix Global Crossing Indra Sosrojoyo juga memberi tanggapannya. Meskipun dia mendukung aspirasi mitra anggota BSA lainnya, dia mengatakan, pemerintah juga perlu berhati-hati dan selektif dalam memilih perusahaan software lokal di kesempatan lelang terbuka ke depannya.
“Jangan sampai salah pilih. Nanti bisa-bisa nama industri software lokal yang jelek namanya di mata internasional. Ini bisa jadi bumerang,” kata Indra. “Karena itu, para pengembang software lokal harus serius menggarap masing-masing softwarenya agar berkualitas baik,” ucapnya.
Sumber: VIVANEWS






