Aceh Hari Ini
IAIN Gelar Seminar Internasional Hubungan Cina dengan Aceh
Sunday, 07/02/2010 - 20:37 WIB - Oleh: [H!]Magazine
BANDA ACEH – IAIN Ar-Raniry mengadakan Seminar Internasional Hubungan Cina dengan Aceh di Gedung Garuda Teater, Sabtu (6/2). Dari seminar sehari itu diketahui jumlah muslim di Taiwan semakin sedikit. Dr Nabil Chang Kuan Lin, dari Islamic & Middle Eastern Studies dalam makalahnya berjudul Muslims in Taiwan: A Community in Decline antara lain disebutkan, asal mulanya muslim di Taiwan dari suku Bugis. Pada tahun 1949, partai komunis, mengatakan banyak muslim Taiwan dari militer yang disebut dengan partai KNP yang bergerak dibidang politik, ekonomi, dan sosial.
Komunitas Muslim Taiwan pada waktu itu mendapatkan posisi yang istimewa di pemerintahan. Sayangnya tidak ada pendukung yang memberikan motivasi hingga akhirnya menyebabkan muslim di Taiwan menurun jumlahnya. Katanya, muslim di Taiwan yang belajar Islam di Malaysia dan negara Islam lainnya, ketika pulang tidak membangun komunitas Islam di Taiwan. Sehingga Islam tidak berkembang di sana. Ia juga mengatakan kalau muslim di Taiwan berpaham sekuler dan komunis. Banyak orang muslim di Taiwan lama kelamaan berpindah agama. Dari Islam ke agama lain yakni Budha dan Kristen.
Sementara pemateri lain, Dr Abdul Rani penulis buku Etnis China Perantauan di Aceh, yang juga dosen di Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry memaparkan materi dengan judul Sejarah Aceh-Cina Ditandai dengan Lonceng Cakra Donya. Abdul Rani mengatakan, hubungan Aceh dan Cina sudah dimulai sejak abad 13. Sedangkan untuk kebudayaan Tionghoa di Aceh, orang Cina mampu berbicara dengan bahasa Aceh. “Di Aceh orang Cina berasal dari suku Khek. Mereka kebanyakan tinggal di kawasan Peunayong,” ujarnya. Untuk interaksi dan komunikasi etnis Cina di Aceh, Abdul Rani mencontohkan, orang Cina yang bersekolah di Methodis. Katanya, etnis Cina di sekolah tersebut lambat berbahasa Aceh sebab menurutnya di kelas mereka diajarkan Bahasa Indonesia. Sedangkan kalau dilihat dari segi budaya, lelaki Cina lebih mempercayai bisnisnya dikelola istri ketimbang anaknya.
Sementara bagi keluarga Cina, anak lelaki adalah anak yang sangat dibanggakan ketimbang anak perempuan. Pada seminar sehari itu dihadiri Sekda Aceh, Husni Bahri TOB mewakili Gubernur Aceh dan membuka seminar yang dihadiri etnis Cina serta kelompok masyarakat lainnya. Hadir juga penggagas kurikulum Bahasa Mandarin di Aceh, Prof Dr Syamsuddin Mahmud, Rektor IAIN, Dr H Farid Wajdi Ibrahim MA, Walikota Banda Aceh, Mawardy Nurdin, dan Jhoni, perwakilan dari masyarakat Cina di Aceh.
Sumber: Serambi Indonesia







