Aceh Hari Ini

Pameran Bonsai di Museum Tsunami

Sunday, 07/02/2010 - 20:31 WIB - Oleh: [H!]Magazine

Banda Aceh – Dari ratusan bonsai beragam bentuk yang unik dan menarik yang mulai dipamerkan pada 31 Januari hingga 13 Februari mendatang itu, ada satu tanaman dari pohon wahong atau sancang, dibandrol dengan harga Rp 100 juta oleh Awenk, sang pemiliknya seorang pria berusia 34 tahun warga Luengbata, Banda Aceh. Menurut Awenk, bonsai pohon wahong yang sudah dirawatnya selama 8 tahun itu, masuk dalam kategori bonsai jumbo karena tingginya mencapai 120 centimeter. Orang Aceh lebih mengenal pohon wahong ini dengan sebutan kang asee. “Pohon ini saya temukan di kawasan Ujong Batee, Aceh Besar, delapan tahun lalu. Bentuknya kokoh dan terlihat sudah sangat tua sekali. Jika sudah jadi bonsai unik seperti ini, biasanya para kolektor atau penggemar bonsai yang sudah tahu nilai seninya, tidak akan mempermasalahkan harga,” kata Awenk, Sabtu (6/2).

Untuk menemukan tanaman unik yang cocok untuk dibonsai, Awenk bersama teman-teman penggemar bonsai, kerap menjelajahi bukit dan menyusuri pinggiran pantai di seluruh Aceh. “Terkadang kami menemukan pohon atau tanaman yang memang sudah terbentuk, dan kami hanya tinggal memindahkannya saja. Tapi lebih banyak tanaman yang kami bentuk menggunakan kawat, sesuai dengan konsep ingin dibentuk seperti apa,” jelas alumnus Fakultas Teknik Muhammadiyah, Banda Aceh ini. Selain pohon wahong yang bernilai Rp 100 juta milik Awenk, pameran gratis ini juga menampilkan koleksi dari pebonsai lain di Banda Aceh dan Aceh Besar. Sekitar 15 jenis tanaman keras lokal berdaun kecil seperti Minkro, beringin, kemuning, bak hagu, Asam Jawa, cemara, serut, dan ranteng kayee kunyet, tertata rapi di dalam pot-pot tinggi agar mudah dinikmati keindahannya oleh pengunjung.

“Bonsai yang dipamerkan di sini berasal dari 80 kolektor di Banda Aceh dan Aceh Besar. Harga yang ditawarkan bervariasi mulai dari Rp 50 ribu sampai Rp 50 juta, dan ada satu bonsai bernilai Rp 100 juta,” kata Muchtar Ketua Persatuan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Aceh.

Cukup tinggi
Menurut dia, animo warga kota terhadap pameran bonsai cukup tinggi. Ini terlihat dari banyaknya pengunjung yang berasal dari segala usia, dan tertarik membeli bakalan bonsai atau bonsai yang baru dibentuk. “Banyak warga yang tertarik dengan tanaman atau pohon yang dikerdilkan di dalam pot dangkal ini. Karena antusiasme pengunjung, pameran ini kami buka hingga malam hari. Rata-rata mereka banyak bertanya tentang teknik membentuk dan merawat bonsai. Sebagian besar pengunjung membeli bonsai bakalan atau yang belum sempurna,” imbuh dia. Muchtar menginformasikan dalam pameran bonsai ini, pengurus PPBI juga membuka bengkel bonsai. “Bagi pengunjung yang memiliki bonsai di rumah ingin di perbaiki atau dibentuk, boleh bawa kemari. Kami juga dengan senang hati melayani pengunjung yang ingin berkonsultasi tentang bonsai,” kata dia.

Ia mengatakan tujuan utama pameran bonsai ini adalah untuk memperkenalkan dan memperlihatkan kepada pengunjung tentang keindahan seni bonsai. “Selain itu menjadi wadah bagi para kolektor dan pebonsai untuk menampilkan karya seni. Ini adalah pameran bonsai ke empat kalinya di Banda Aceh. Beberapa bonsai sudah pernah ikut kontes tingkat nasional dan internasional. PPBI Aceh berencana untuk mejadi tuan rumah kontes bonsai nasional 2010, dan Museum Tsunami Aceh sangat cocok untuk menggelar event nasional itu,” kata Muchtar. Sementara itu, Agus, seorang penggemar bonsai yang ikut ambil bagian dalam pameran ini menyebutkan Aceh sangat kaya akan ragam tanaman keras yang cocok dijadikan bonsai. “Di Aceh ada pohon minkro yang sangat cocok dijadikan bonsai, setahu saya pohon minkro hanya ditemukan di Aceh tidak di daerah lain. Ini menjadi kelebihan pebonsai di Aceh,” bangganya.

Ia menjelaskan istilah bonsai berasal dari Jepang yang berarti memelihara tanaman atau pohon dalam pot dangkal, sehingga tampil seperti sudah sangat tua dan segar layaknya di alam bebas. “Gaya bonsai ada bermacam-macam di antaranya natural, ekspresionis, dan suryalis. Yang dipamerkan di sini sebagian besar mengambil gaya ekspresionis. Contoh yang suryalis misalnya gaya mencengkram batu, akar terjalin, hidup di atas batu, dan gaya rakit,” sebut Agus.

Sumber: Serambi Indonesia

+ Index

+ Index

+ Index

+ Index