Aceh Hari Ini
Berburu di Bukit Pisang
Monday, 08/03/2010 - 12:59 WIB - Oleh: Roni Muchtar
Kawasan Jalin, Kecamatan Jantho, Kabupaten Aceh Besar, mendadak jadi terkenal dalam dua pekan terakhir. Pasalnya, polisi menemukan lokasi pelatihan kelompok bersenjata, sekitar 15 kilometer arah timur Kota Jantho, ibu kota Kabupaten Aceh Besar, atau sekitar 90 menit timur Kota Banda Aceh.
Jalin adalah nama sebuah desa. Letaknya di ujung jalan beraspal, ruas Jantho-Kemala (Pidie), di ujung perbukitan menuju kawasan hutan dan berbukit. Sebagian penduduknya adalah transmigran yang berasal dari beberapa provinsi di Indonesia. Sebagian penduduknya bekerja sebagai petani. Umumnya menanam padi, tetapi sejak satu tahun terakhir mereka mencoba peruntungan dengan menanam jagung.
Pekan lalu, Jalin mendadak jadi sangat tenar. Tim gabungan Brigade Mobil Polda Nanggroe Aceh Darussalam dan Polres Aceh Besar menangkap empat orang yang diduga terkait dengan kelompok Jemaah Islamiyah. Mabes menyatakan, kelompok ini terkait dengan kelompok Muhammad Rois, pelaku peledakan bom di Kedutaan Besar Australia tahun 2004. Rois adalah pelaku asal Banten. Dua orang yang ditangkap di kawasan Jalin berasal dari Banten.
Kawasan Jalin sendiri adalah kawasan perbukitan. Sebagian wilayah hutannya masuk ke dalam kawasan lindung Jantho. Setidaknya, tiga kabupaten berbatasan langsung dengan kawasan yang termasuk ke dalam kawasan Ulu Masen, yaitu Aceh Besar, Pidie Jaya, dan Pidie. Kawasan ini merupakan rangkaian Pegunungan Bukit Barisan.
Setidaknya, dalam satu pekan terakhir, tim gabungan Polda Aceh dibantu Densus 88 Antiteror mendirikan posko di Desa Panca, Lembah Seulawah, sebagai pintu masuk pengepungan kawasan yang diduga digunakan latihan kelompok bersenjata. Proses penangkapan tertutup. Wartawan dilarang mendekat.
Kepala Polda NAD Irjen Adityawarman menyatakan, kasus itu sudah ditangani Mabes Polri. Adityawarman menyatakan, Polda tak terlibat langsung dengan pengejaran tersebut.
Sejak empat hari lalu, tim gabungan menggeser operasinya ke kawasan Kemukiman Lamkabeu. Topografi kawasan itu tak berbeda jauh dengan kawasan perbukitan Krueng Linteung, berbukit-bukit. Bila perbukitan Krueng Linteung jauh dari kawasan berpenduduk, sebaliknya perbukitan di Kemukiman Lamkabeu dikelilingi rumah penduduk. Tanah yang subur dan gembur membuat warga memilih lokasi ini untuk bercocok tanam, mulai dari padi, duren, pinang, hingga pisang.
Geuchik Meunasah Tunong, Maimun Ahmad, mengatakan, 90 persen penduduk di kemukiman berprofesi sebagai petani. Sisanya berdagang hasil bumi atau toko kelontong. Hasil kebun warga dijual ke pasar Seulimum, yang berjarak lebih kurang 3 km dari kemukiman.
Lokasi penyergapan kelompok ini terletak di ceruk perbukitan kemukiman Lamkabeu. Dibanding kawasan Krueng Linteung di Jalin, kawasan ini lebih sempit untuk pergerakan kelompok bersenjata karena di sisi sebelah timur lautnya, berjarak lebih kurang 20 km, berbatasan dengan laut lepas. Laut itu mengarah ke Selat Malaka.
Untuk mencapai laut, yang masuk ke dalam Kemukiman Lampanah, dibutuhkan waktu dan tenaga ekstra karena topografi kawasan adalah perbukitan. Tidak jarang, perbukitan yang terletak di kaki Lembah Seulawah merupakan tempat yang strategis untuk bersembunyi karena kawasan hutannya masih cukup lebat
Sumber: KOMPAS







