Aceh Hari Ini

Seusai Sahur, 25 Guru di Aceh Keracunan

Tuesday, 24/08/2010 - 08:44 WIB - Oleh: Roni Muchtar

Puluhan guru peserta sertifikasi guru, Senin (23/8/2010), menjalani perawatan di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin, Banda Aceh. Mereka diduga keracunan makanan yang disediakan perusahaan jasa penyedia makanan yang disewa manajemen penginapan.

Sekretaris Panitia Pelaksana Program Sertifikasi Guru Rayon 01 Nanggroe Aceh Darussalam Muhammad Yusuf Aziz, ditemui di ruang IGD RSUD Zainoel Abidin, menjelaskan, sebanyak 25 guru mengalami gejala keracunan, seperti mual, pusing, dan bahkan muntah-muntah.

”Semuanya sudah dibawa ke sini. Yang tidak terkena pun memeriksakan diri sebagai tindakan preventif,” katanya. Yusuf menambahkan, total peserta program tersebut adalah 80 orang. Namun, tidak semuanya dirawat di UGD RSUD Zainoel Abidin.

Dia menerangkan, baru sekitar pukul 07.30 para peserta pelatihan mengeluh pusing, mual, dan bahkan ada yang muntah. Ketika itu, para peserta sedang mengikuti pemberian materi sesi pertama pada hari ini. Kegiatan terpaksa dihentikan setelah puluhan peserta mengeluhkan hal yang sama.

”Karena sudah ada yang muntah, kami membawa mereka ke rumah sakit,” ujarnya. Dugaan awal mereka keracunan makanan yang disantap pada saat sahur.

Pasca-perawatan

Kepala UGD RSUD Zainoel Abidin, Iskandar, mengatakan, hingga Senin siang, jumlah guru yang menjalani perawatan sekitar 32 orang. Namun, angka itu bisa bertambah atau berkurang tergantung kondisi mereka pasca-perawatan awal.

Dia menjelaskan, sebagian besar korban yang datang mengaku mengalami gejala pusing dan mual. Gejala itu sebagai gejala awal keracunan.

”Tetapi, masih terlalu dini kalau mau mengatakan hal itu sebagai keracunan. Mungkin saja tubuh menolak makanan yang tidak sesuai dengan lambung atau memang tubuh tidak pernah diasupi makan seperti itu. Banyak kemungkinan,” tuturnya.

Dia juga mengatakan belum ada contoh makanan yang diserahkan panitia kepada mereka. ”Kami belum bisa menentukan apakah ini bentuk keracunan atau lainnya,” ujarnya.

Diduga basi

Burhanuddin, salah satu korban, mengatakan, menu makan sahur yang disediakan perusahaan jasa penyedia makanan itu adalah nasi putih, tempe, dan sayur keumamah (ikan tongkol masak Aceh). Namun, dia mencurigai nasi yang disediakan oleh perusahaan tersebut.

”Saya curiga, nasi yang diberikan itu sudah dimasak satu malam sebelumnya. Jadi, hanya nasi yang dihangatkan, bukan nasi yang baru dimasak,” tutur guru dari Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Julok, Kabupaten Aceh Timur, ini.

Hartati, guru asal Bireuen, mengatakan, sudah beberapa hari terakhir menu tempe yang disediakan tidak segar. Namun, dirinya juga tidak mau berspekulasi mengenai makanan yang dihidangkan.

Yusuf mengatakan, pihaknya akan menanggung setengah biaya pengobatan para guru.

Sumber: KOMPAS

+ Index

+ Index

+ Index

+ Index