Aceh Hari Ini, Budaya
Logam Kerajaan Samudera Pase Ditemukan
Thursday, 28/10/2010 - 02:19 WIB - Oleh: [H!]Magazine
LHOKSEUMAWE – Dirham atau koin emas ditemukan seorang warga Gampong Blang Weu, Kecamatan Blang Mangat, Pemko Lhokseumawe. Menurut analis sejarah kebudayaan Islam, dirham itu keluar masa kerajaan Samudera Pase.
Analis sejarah kebudayaan Islam, Taqiyuddin Muhammad, mengungkapkan serajah koin emas yang ditemukan T Azwar Muhammad (31), warga gampong Blang Weu, Selasa (26/10). Pada salah satu sisi dirham terdapat inskripsi bertulis “Abdul Jalil Malik Azh-Zhahir”, sedangkan sisi lain tertulis “As-Sultan Al-‘Adil”.
“Nama sultan yang tertera pada dirham tersebut pernah saya jumpai pada salah satu nisan makam di komplek pemakaman kesultanan di Blang Mee, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, beberapa tahun silam,” jelas Taqiyuddin, tadi malam.
Pada makam Yuhan (Yuan) Fathimah, menurut dia, wafat pada 894 Hijriah atau 1489 Masehi. Melalui inskripsi ini, diketahui Sultan ‘Abdul Jalil adalah putera Sultan Zainal ‘Abidin bin Ahmad yang bergelar “Ra-ubabdar.
“Sebelum dijumpai koin emas ini, saya menduga Sultan ‘Abdul Jalil telah diberikan tugas memerintah di Borneo atau Brunei Darussalam oleh ayahnya. Dugaan ini didasari oleh sebab tidak ditemukan nisan makamnya di berbagai komplek pemakaman kesultanan Samudra Pasai yang ada di sepanjang pesisir Utara Sumtera,” ujarnya.
Dengan temuan ini, dipastikan Sultan ‘Abdul Jalil telah memerintah kerajaan Samudra Pasai sebagaimana saudara-saudaranya yang lain dari keturunan Zainal ‘Abidin Ra-ubabdar yang juga digelar dengan “Al-Malik Azh-Zhahir”. Dapat diperkirakan bahwa ia memerintah pada tahun-tahun penghujung abad ke-15 Masehi.
Nama ‘Abdul Jalil juga pernah disebut dalam Hikayat Raja-raja Pasai. Dalam Hikayat itu dituturkan Tun ‘Abdul Jalil adalah putra Sultan Ahmad Perumdal Perumal berparas tampan. Ketampanannya membuat putri dari Majapahit jatuh hati. Namun kemudian Ahmad membunuh Tun ‘Abdul Jalil karena menginginkan putri Majapahit itu untuk dirinya.
Karena kecewa putri atas kematian Abdul Jalil, lalu ia memutuskan menenggelamkan dirinya beserta pengikutnya yang setia di perairan depan Kuala Jambo Aye. Peristiwa itu membuat Ratu Majapahit marah dan menyerang Samudra Pasai. Sultan Ahmad kalah dan lari ke negeri Menduga.
“Jika dibandingkan antara penuturan hikayat dengan data yang disodorkan inskripsi pada dirham itu, dengan demikian Sultan ‘Abdul Jalil sempat menduduki tahta kekuasaan Samudra Pasai, maka jelas sekali isi hikayat banyak memuat cerita-cerita rekaan,” ungkap Taqiyuddin.
Sumber: WaspadaOnline







