Kesehatan
India Tertarik Bekerja Sama
Thursday, 24/03/2011 - 03:58 WIB - Oleh: [H!]Magazine
JAKARTA – India ingin bekerja sama dengan Indonesia untuk memproduksi obat generik. Memproduksi obat, khususnya generik, dengan harga terjangkau merupakan salah satu kekuatan India. Hal itu terungkap dalam Seminar bertema ”Future of India/Indonesia Cooperation on Generic Drugs Including Discussion on Their Social Benefits and the Consequences for Sustained Poverty Reduction”, Rabu (23/3) di Jakarta.
Duta Besar India untuk Indonesia Biren Nanda mengatakan, negaranya bukan sekadar hendak melakukan penetrasi pasar di Indonesia, melainkan kerja sama jangka panjang.
Drugs Controller General of India, Surinder Singh, mengatakan, India mampu memproduksi obat generik berkualitas dengan harga murah. Dia mencontohkan, harga obat antiretroviral (ARV) untuk HIV 15.000 dollar AS per pasien per tahun. Namun, obat ARV yang diproduksi India hanya 350 dollar AS per pasien per tahun. Ketika terjadi wabah influenza H1N1, India dengan bantuan WHO memproduksi vaksin dengan harga separuh dari harga vaksin perusahaan lain.
Nanda menambahkan, India dan Indonesia dapat bekerja sama di sektor farmasi. Produksi obat dapat dilakukan di Indonesia. Dengan demikian, masyarakat diuntungkan karena bisa mengakses harga lebih murah, terjangkau, dan berkualitas. ”Di Vietnam dan Malaysia, ada kerja sama insentif fiskal bagi perusahaan farmasi India. Produksi dilakukan di kedua negara itu,” katanya.
Lebih murah
Singh mengatakan, harga obat di India sangat kompetitif sehingga obat impor sulit bersaing dengan produk lokal. Untuk melindungi masyarakat, Pemerintah India menerapkan kontrol harga obat. Harga tertinggi ditetapkan untuk sekitar 20 persen obat esensial (life saving). Selebihnya, sekitar 70 persen obat curah dan obat kemasan, baik generik bermerek ataupun tidak bermerek, diterapkan sistem monitor harga.
Harga obat diatur dalam Drugs Price Control Order 1995, sementara pengawasan oleh National Pharmaceutical Pricing Authority di bawah Ministry of Chemicals and Fertilizers. Demi kepentingan publik, lembaga tersebut dapat mengontrol harga obat apa pun.
Joint Secretary Departement of Pharmaceuticals Ministry of Chemicals and Fertilizers Arun Jha mengatakan, perusahaan yang melanggar akan diminta menurunkan harga. ”Harga obat generik bermerek di India bisa 100 persen lebih murah dibandingkan obat generik bermerek di Indonesia,” kata Jha.
Jha mengatakan, Pemerintah India peduli dengan etika pemasaran obat. Ada peringatan dan sanksi bagi industri farmasi yang terlalu agresif dalam memasarkan obat, terutama lewat dokter.
Ketua Umum Ikatan Apoteker Indonesia Mohamad Dani Pratomo berharap India tidak masuk sekadar sebagai pedagang, tetapi ada kerja sama antarpemerintah untuk merestrukturisasi bisnis farmasi di Indonesia.
Sumber: Kompas.com







