Aceh Hari Ini
Produksi Kopi Tangse Merosot Tajam
Tuesday, 10/05/2011 - 02:20 WIB - Oleh: [H!]Magazine
TANGSE, PIDIE – Produksi kopi Tangse di Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, pasca banjir bandang yang meluluhlantakkan 11 desa di kawasan pegunungan itu dilaporkan merosot tajam hingga 50 persen. Beruntung di tengah kondisi tersebut, petani masih sedikit tertolong oleh naiknya harga jual saat ini.
Petani kopi di Tangse, Zainal, mengungkapkan, penyusutan produksi kopi yang terjadi cukup besar, mencapai 50 persen dari rata-rata produksi. Biasanya, rata-rata produksi biji kopi yang dicapai per hektarenya mencapai 500 sampai 700 kilogram. “Namun sekarang ini, jangankan mencapai 500 kg, setengah dari hasil itu saja sulit didapat, “ katanya.
Dia tidak mengetahui persis penyebab penurunan produksi tersebut. Namun ada beberapa versi yang diperoleh diantaranya karena faktor umur tanaman yang sudah semakin tua, serangan hama, serta faktor dampak dari banjir bandang.
Selama ini hasil produksi kopi Tangse ditampung pedagang pengumpul di Kota Beureunuen, 46 kilometer dari sentra produksinya itu, setelah sebelumnya ditampung agen di Tangse. Dari Kota Beureunuen ini lah pedagang penampung baru mengirim ke luar daerah seperti ke Kota Banda Aceh dan kota kabupaten/kota lainnya di Aceh, bahkan ke Medan (Sumatera Utara).
Informasi lain, susutnya produksi kopi terjadi karena serangan hama jamur akar dua tahun terakhir. Salah seorang petani, Ismail, mengaku bahwa sebagian tanaman kopi miliknya mati akibat terserang hama tersebut yang sudah berlangsung menahun itu.
Menurut petani lain di kawasan Ranto Panyang dan Pucok Peunalom, Marzuki, hama jamur akar itu menyerang tanaman kopinya yang menyebabkan pohonnya secara perlahan layu, kering dan akhirnya mati.
Sebelumnya, Camat Tangse, Jafaruddin, menyebutkan, merosot produksi kopi Tangse selain usia tua dan serangan hama penyakit seperti disebutkan para petani juga disebabkan hancurnya perkebunan kopi rakyat di dataran tinggi itu hampir mencapai 50 persen atau sekira 500 hektare, setelah dihantam banjir bandang, 10 Maret 2011 lalu.
“Rata-rata hasil produksi kopi Tangse yang sebelumnya mencapai 500 kilogram hingga 1 ton/hektare. Namun akibat serangan hama penyakit dan dampak banjir bandang sehingga hancurnya sekira 50 persen kebun kopi rakyat, produksi kopi merosot tajam 40 hingga 50 persen,” kata camat.
Beruntung di tengah penurunan produksi tersebut, harga kopi justeru masih bertahan dan bahkan sedang naik-naiknya, pada kisaran Rp.20.000/kg. “Jadi harga kopi Tangse masih bertahan dan stabil karena produksinya secara kontinu dapat dihasilkan dari gampong (desa-red) lainnya di Tangse yang tidak terkena banjir bandang, “imbuh Camat Jafaruddin.
Sumber: Waspada.co.id







