Jalan Jalan
Menghadapi Visit Aceh Year 2013
Masyarakat Diimbau Sadar Wisata
Wednesday, 15/06/2011 - 09:08 WIB - Oleh: [H!]Magazine
BANDA ACEH – Direktur Tradisi Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Dra Poppy Safitri MSi mengatakan, banyaknya objek wisata di Aceh tidak menjamin akan mampu menarik wisatawan berkunjung ke Aceh. Untuk menyukseskan program Visit Aceh Year 2013, masyarakat Aceh juga diimbau mempunyai sikap sadar wisata.
Poppy Safitri tampil dalam pembukaan seminar nasional empat hari yang berlangsung di Sultan Hotel, Banda Aceh, Senin (13/6) malam. Dia hadir memberikan sambutan di depan puluhan peneliti budaya yang berasal dari 11 Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) seluruh Indonesia.
Dikatakan oleh Poppy, tanpa kesiapan masyarakat, banyak hambatan yang timbul dalam upaya menarik wisatawan masuk ke suatu daerah, termasuk Aceh. Itu karena, menurut Poppy, menjual objek wisata juga sekaligus menjual budaya kejujuran. Dia menyontohkan ongkos angkutan yang lazimnya dikutip mahal terhadap para wisatawan, namun lebih murah untuk masyarakat lokal. Begitu pula harga barang-barang di pasar yang lazimnya dijual lebih mahal beberapa kali lipat untuk wisatawan. “Masyarakat harus diberikan pemahaman bahwa ini menyangkut citra. Wisatawan tidak mau diperlakukan begitu. Jadi, saya mengimbau masyarakat untuk sadar wisata,” kata Poppy yang mengaku mendapat beberapa laporan adanya perlakuan tak mengenakkan oleh oknum masyarakat di Aceh terhadap wisatawan yang berkunjung ke kawasan ini.
Dikatakan oleh Poppy, Aceh memilik banyak sekali keunggulan yang bisa dijual kepada para wisatawan. Mulai dari seni budaya yang khas, kuliner, hingga aspek ibadah. “Misalnya, orang di sini berbondong-bondong ke masjid setiap waktu shalat, itu juga menarik bagi wisatawan asing. Bagi kita mungkin biasa-biasa saja. Seperti juga terjadi di Bali, masyarakat hanya menjalankan rutinitas adat dan agama, tetapi itu sangat menarik bagi wisatawan,” kata Poppy.
Secara lebih spesifik, Poppy menyarankan pemerintah di sini untuk mengembangkan pasar tradisional, seperti yang dikembangkan oleh Thailand. Geliat di pasar tradisional akan mencerminkan produk budaya masyarakat tersebut. “Yang diinginkan wisatawan bukan yang wah dan mahal-mahal. Mereka mungkin hanya menginginkan produk yang dibuat dari batok kelapa,” kata dia. Saat memberikan sambutan dalam seminar yang sama, Kadispudpar Provinsi Aceh Dra Rasyidah M Dallah MSi berharap supaya Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dapat membantu menyukseskan Tahun Kunjungan Aceh 2013 tersebut.
Kepala BPSNT Banda Aceh Djuniat Ssos mengatakan, seminar nasional peneliti BPSNT Se-Indonesia yang ke-5 tahun 2011 ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengkajian dan penelitian budaya dan sejarah bagi para peneliti. Dikatakan Djuniat, mereka yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia tersebut juga diajak ke kilometer nol Sabang untuk melihat langsung beberapa objek wisata bersejarah.
Sumber: SerambiNews.com







