Aceh Hari Ini, Jalan Jalan

Pengusaha Pariwisata Kunjungi Pulo Bunta

Thursday, 16/06/2011 - 08:33 WIB - Oleh: [H!]Magazine

BANDA ACEH – Sebanyak 80-an pengusaha travel biro, perhotelan, dan airlines dari berbagai daerah di Tanah Air mengunjungi Pulo Bunta. Para pengusaha travel biro mengaku, setelah dua hari berada Pulo Bunta siap untuk menjual keindahan alam pulau yang terletak di lepas pantai ujung Pancu Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar tersebut.

Namun mereka mengaku untuk menjadikan Pulo Bunta sebagai salah satu pusat destinasi pariwisata di Aceh Besar, Pemerintah Aceh dan Aceh Besar sudah saatnya membangun fasilitas pendukung untuk kemudahaan turis mencapai pulau tersebut.

Pulo Bunta yang berada dalam gugus pulau-pulau kecil di lepas Ulee Lheue itu bisa dicapai dalam satu jam perjalanan dengan boat. Saat pulau ini sangat membutuhkan satu dermaga yang permanen.

Sejumlah pengusaha biro perjalanan, pengusaha hotel, dan perusahaan penerbangan dari berbagai daerah yang mengunjungi Pulo Bunta bersama Asosiasi Profesional Pariwisata Indonesia (ASPPI) Aceh, Minggu di sela-sela menikmati keindahan panorama antar pulau-pulau di gugus Kecamatan Pulo Aceh tersebut mengaku Bunta yang memiliki pasir putih itu sangat berpeluang untuk menjadi pusat kunjungan wisatawan masa depan.

Namun, sayangnya, untuk mencapai pulau tersebut, masih sangat susah. “Ini jelas karena ketiadaan dermaga tempat sandaran kapal motor. Beberapa pengusaha travel biro, terutama para wanita, mengaku mereka agak kesulitan ketika turun dan naik boat di lepas pantai pulau yang berhadapan dengan Ujong Pancu tersebut,” kata Sinaga.

“Dalam kondisi masih alami seperti ini saja, sebenarnya sudah sangat mengasyikkan bagi turis, apalagi jika sarana pendukung lainnya sudah siap dibangun, dipastikan Pulo Bunta itu akan menjadi kawasan wisata yang sangat menarik di Aceh,” kata Anton Luis Fiskal, Outbound Director PT GO Adventure99, Medan.

Anton yang memiliki hobbi menyelam dan mendokumentasi terumbu karang lewat foto-foto dan videonya mengaku begitu foto-foto terumbu karangnya dari Pulo Bunta dipublish ke jejaring internet, sejumlah kliennya langsung menghubunginya untuk meminta harga paket. “Saya akan segera kembali dengan membawa peserta tur ke Pulo Bunta,” katanya kepada Serambi, kemarin.

Sekretaris ASPPI Aceh, Umar Machtub yang dihubungi Serambi secara terpisah mengaku sejumlah peserta Ghatering Travel Hotel Airline (GTHA) 4 yang dipusatkan di Pulo Bunta, Aceh Besar mendapat sambutan positif dari peserta yang berasal dari berbagai daerah di tanah air.

Beberapa pengusaha travel biro, kata Sekretaris ASPPI Aceh itu, mengaku akan segera kembali ke Pulo Bunta dengan membuat paket tur tersendiri. “Ini betul-betul perjalanan yang mengasyikkan bagi mereka,” kata Umar.

Para agen perjalanan dan pengusaha hotel dan penerbangan yang ikut dalam GTHA 4 Pulo Bunta berasal dari berbagai kota, di antaranya dari Surabaya, Banten, Ceribon, Jakarta, Padang, Medan, termasuk dari Lhokseumawe. Kecuali, Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh, Reza Pahlevi juga ikut bersama awak airline, biro perjalanan wisata, dan perhotelan tersebut.

Diterjang tsunami
Keuchik Pulo Bunta, Hasmadi Yahya yang ditanya Serambi tentang upaya pembangunan dermaga di pulau berpenduduk 40 kepala keluarga itu mengaku pihaknya sudah pernah mengusulkan pembangunan kembali dermaga yang diterjang tsunami 26 Desember 2004 lalu.

“Di pulo ini, sebelum tsunami datang, sudah pernah ada dermaga permanen. Namun saat tsunami menerjang sepanjang pantai di Aceh, dermaga yang panjangnya mencapai 40 meter ke laut itu pun hancur. Saat ini hanya tersisa puing-puingnya saja,” katanya keuchik.

Untuk kemudahan penduduk yang umumnya hidup dari hasil melaut dan bertani, pihaknya sudah berkali-kali mengusulkan agar dermaga yang hancur dihantam tsunami dibangun kembali. “Ketika BRR Aceh-Nias masih ada, kami juga sudah pernah mengusulkan pembangunan kembali dermaga tersebut. Tapi, realisasinya sampai saat ini tidak pernah jadi kenyataan,” katanya.

Sampai saat ini, tambahnya, untuk mendaratkan para turis yang ingin mengunjungi pulau yang memiliki luas 180 hektare terpaksa diturunkan agak di tengah laut, dan kemudian baru dilansir dengan menggunakan boat ukuran kecil. Ini sangat tidak mendukung bagi upaya percepatan pengembangan sektor pariwisata Pulo Bunta.

Sumber: SerambiNews.com

+ Index

+ Index

+ Index

+ Index